Satlan dalam BK (Gaya Belajar)

Standar
Satlan dalam BK (Gaya Belajar)

BIMBINGAN DAN KONSELING

  1. Materi Layanan : Gaya belajar
  2. 2. Jenis Layanan : Informasi
  3. 3. Fungsi Layanan : Pemahaman
  4. 4. Bidang Bimbingan : Belajar
  5. 5. Tugas Perkembangan : Mengenal kemampuan gaya belajar yang dimiliki siswa
  6. 6. Kompetensi Dasar             ; Siswa dapat memahami kemampuan gaya belajarnya sendiri melalui kegiatan belajar
  7. 7. Indikator : Siswa dapat menyebutkan gaya belajar yang diterapkan ketika belajar (Visual,Auditorial maupun Kinestetik)
  8. 8. Uraian Kegiatan :
  9. Penjelasan tentang arti gaya belajar
  10. Siswa dapat mengidentifikasi gaya belajar yang ada pada dirinya.
  11. Siswa dapat mengetahui kecenderungan gaya belajar melalui latihan mengidentifikasi kemampuannya.
  12. 9. Metode : Diskusi dan tanya jawab.
  13. 10. Tempat : Ruang kelas
  14. 11. Semester / Waktu : 1 / 1 x 45 menit
  15. 12. Penyelenggara : Nur khomisah
  16. 13. Pihak yang diikut sertakan: Guru mapel

14 Sasaran                               : Kls VII

15 Alat perlengkapan              : Leptop ,LCD,Slide Microsoft Power Point

  1. 16. Rencana Penilaian dan tindak lanjut :
  2. Penilaian proses kegiatan / penilaian segera (laiseg)

                                                                                               Pekalongan, … februaari2013

            Mengetahui                                                                             Guru Pembimbing

            Kepala Sekolah

            Drs. M. Najib

                 Nur khomisah                                                                                                    

Materi Gaya belajar

A.Definisi gaya belajar menurut para ahli :

  • Menurut Winkel (2009) gaya belajar adalah cara belajar yang khas bagi siswa.

Pada dasarnya kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang, dan ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu, siswa seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama

  • Menurut Nasution (2011) gaya belajar adalah cara siswa bereaksi dan menggunakan perangsang-perangsang yang diterima proses belajar.

Apa pun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu untuk bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Jika seseorang bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap orang itu, jika suatu ketika, misalnya harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.

  • Menurut penulis gaya belajar adalah cara siswa untuk membuat suatu strategi dalam belajar dan dapat berpengaruh terhadap hasil belajar seseorang tersebut.
  • Menurut Deporter dan Humacki (2011) gaya belajar adalah suatu kombiasi dari bagaimana seseorang menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi.

Gaya belajar bukan hanya berupa aspek ketika menghadapi informasi, melihat, mendengar, menulis dan berkata. Tetapi juga aspek pemrosesan informasi sekunsial, analitik, global atau otak kiri–otak kanan, aspek lain adalah ketika merespon sesuatu atas lingkungan belajar (diserap secara abstrak dan konkret).

     Dari pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih siswa untuk bereaksi dan menggunakan perangsang-perangsang dalam menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi pada proses belajar.

Para peneliti menemukan adanya berbagai gaya belajar pada siswa yang dapat digolongkan menurut kategori tertentu. Siswa berkesimpulan, bahwa:

  1. Setiap siswa belajar menurut cara sendiri yang disebut gaya belajar. Juga guru mempunyai gaya mengajar masing – masing.
  2. Siswa dapat menemukan gaya belajar itu dengan instrument tertentu.
  3. Kesesuaian gaya mengajar dengan gaya belajar mempertinggi efektivitas belajar.

Macam-macam gaya belajar yaitu :

  1. Visual

Gaya Belajar Visual menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya.

Ada beberapa karakteristik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual yaitu:

  1. kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya
  2. memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna,
  3. memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik,
  4. memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung,
  5. terlalu reaktif terhadap suara,
  6. sulit mengikuti anjuran secara lisan
  7. seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.

Ciri-ciri gaya belajar visual yaitu

  • Teliti terhadap yang detail
  • Bisa mengingat dengan mudah apa yang dilihat
  • Mempunyai masalah dengan instruksi lisan
  • Tidak mudah terganggu dengan suara tergaduh
  • Membaca secara cepat dan tekun
  • Lebih suka membaca dari pada dibacakan
  • Lebh suka metode demonstrasi dan nada ceramah
  • Bila menyampaikan gagasan sulit memilih kata
  • Rapi dan teratur

Tips untuk mempermudah proses gaya belajar visual yaitu

  • Bacalah buku yang banyak ilustrasi gambar dan warnanya serta mencoba mengilustrasikan ide-ide tersebut ke dalam gambar
  • Gunakan stabilo untuk menggaris bawahi kata-kata yang penting
  • Milikilah beberapa warna bolpoin
  • Mencatat kembali pelajaran dengan format yang lebih sistematis
  1. Auditorial

gaya belajat auditorial mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Ada beberapa karakteristik gaya belajar auditorial yaitu :

  1. orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran,
  2. memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung,
  3. memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.

Ciri-ciri gaya belajar auditorial yaitu

  • Bicara pada diri sendiri saat bekerja
  • Konsentrasi mudah terganggu oleh suara berisik
  • Senang bersuara keras ketika membaca
  • Sulit menulis, tapi mudah bercerita
  • Pembicara yang fasih
  • Sulit belajar dalam suasana yang bising
  • Lebih suka musik dari pada lukisan
  • Bicara dengan irama yang terpola
  • Lebih suka gurauan lisan dari pada membaca buku humor/komik
  • Mudah menirukan nada,irama dan warna suara

Tips untuk mempermudah proses belajar auditorial yaitu :

  • Bawalah voiq recorder saat mendengarkan pelajaran dikelas
  • Berfikir dan menginggat sambil mengucapkannya keras-keras
  • Hindari polusi suara saat belajarnya
  1. Kinestetik

Gaya belajar kinestetik mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya.

Ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya diantaranya :menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya  ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik yaitu;

  • Berbicara dengan perlahan
  • Menanggapi perhatian fisik
  • Menyentuh orang untuk mendapat perhatian
  • Banyak bergerak dan selalu berorientasi pada fisik
  • Menggunakan jari sebagai petunjuk dalam membaca
  • Banyak menggunakan isyarat tubuh
  • Tidak bisa duduk diam dalam waktu lama
  • Menyukai permainan yang menyibukkan
  • Selalu ingin melakukan sesuatu
  • Tidak mudah mengingat letak geografis

Tips untuk mempermudah proses belajar kinestetik yaitu :

  • Belajar menulis di udara sambil membayangkan / mengeksplorasikan lingkungannya
  • Lebih baik belajar dengan posisi berdiri
  • Pertahankan diri untuk terus bergerak ketika belajar

Daftar pustaka

http//minartiragayu.blogspot.com/2013/03/pengertian-gaya belajar.berbagai macam.html       ( minartirahayu,rabu 20 maret 2013 )

http//belajar psikologi.com/macam-macam gaya belajar/

http//jurnal.com/2013/09/pengertian-gaya belajar/html

naskah Konseling Behavioral

Standar
naskah Konseling Behavioral

Naskah Drama

  1. Tema : Phobia
  2. Ritme Ceritaa
  3. Pemeran : Nurmadita Sari sebagai konselor

Sofah Marwah sebagai konseli

Ade Peni Afifah sebagai sutradara

Enci Ranyu sebagai kameramen

Nur Khomisah sebagai editor

  1. Permasalahan : sofah marwah memiliki phobia terhadap ulat yang berlebihan
  2. Latar : Tempat : Universitas Pancasakti Tegal

Waktu   : Siang jam 11.00

Naskah Drama

Attending

Konseli : (Mengetuk pintu), “Assalamu’alaikum Wr. Wb.” Berjabat tangan dengan konselor.

Konselor: Wa’alaikum Salam, menghampiri klien dan mempersilahkan duduk.

Opening

Konseli : (Duduk di kursi yang telah dipersiapkan) maaf bu, siang-siang gini sudah mengganggu.

Konselor: Oh…, tidak apa-apa mb sofah, oya bagaimana kabarnya mb ? (senyum dan mulai

percakapan).

Konseli :” Alhamdulillah baik bu”.

Konselor: Syukurlah kalau begitu, bagamana dengan kuliahnya?

Konseli : Alhamdulillah lancar bu,

Konselor: Oya, ada yang bisa ibu bantu.

Acceptance

Konseli : Hmm… gini bu, saya itu pobia dengan ulat, dan pobia itu sangat mengganggu saya.

Konselor: Iya…ibu dapat memahami perasaan mb sofah (sambil mengangguhkan kepala).

Konseli : Iya bu, bagaimana tidak mengganggu, saya terkadang di bully oleh teman-teman saya, itu

membuat saya ketakutan bu.

Konselor: Konselor mengangguk kepala dan memandangi konseli) hmm…iya..iya..

Restatement

Konseli : Saya benar-benar merasa takut terhadap ulat bu. Yang hal tersebut membuat saya sering

dibully.

Konselor: Mb sofah merasa takut.

Reflection of feeling

Konseli : Bu.. saya sudah berusaha mencoba agar tidak takut terhadap ulat tapi tetap saja.

Konselor: Sepertinya anda merasa kecewa terhadap usaha anda.

Clarification

Konseli : Dulu saya pernah kejatuhan ulat di pundaknya, muka ulat tersebut menghadap ke

muka.hal tersebut membuat saya takut dan trauma hingga sekarang.

Konselor: Dengan kata lain, anda takut karena pernah kejatuhan ulat.

Paraphrashing

Konseli : Hal ini membuat saya merasa takut dan trauma yang berkepanjangan.

Konselor: “Tampaknya anda merasa tertekan”.t

Structuring

Konseli : Saya sulit sekali menyesuaikan diri dengan teman-teman yang membully saya.

Konselor: Anda kemari untuk membahas masalah anda dengan saya. Marilah kita manfaatkan waktu

45 menit itu dengan sebaik-baiknya, saya tidak dapat memberikan nasihat sebagaimana

yang anda minta. tetapi, marilah kita bicarakan masalah ini bersama.

Konseli : Bu. Saya sulit sekali untuk menghilangkan pobia

Ini, karena pobia ini saya sering di bully oleh teman-teman, jadinya saya terganggu.

Konselor: Dalam masalah yang anda kemukakan tadi setidaknya ada 3 masalah yaitu pobia, di bully

teman, dan terganggu.

Konseli : Bu, bagaimana cara penanganannya agar pobia ini sembuh?

Konselor: Coba anda tenangkan dulu, tarik nafas dan relaksasikan pikiran anda.

Konseli : (Diam) saya bingung bu harus bagaimana lagi.

Konselor: Coba anda tutup mata, bayangkan didepan anda ada sebuah ulat. Kemudian katakan

dalam hati “Saya tidak takut ulat” berkali-kali (beberapa menit).

Konseli : “(Diam dan membayangkan)”.

Konselor: Bagaimana perasaanmu? Apakah lebih baik?

Konseli : Saya masih merasa takut bu.

Konselor Kalau begitu, ini ada sebuah gambar. Coba anda lihat gambar ini (sambil menunjukkan

gambar).

Konseli : Histeris yang mulai berkurang.

Konselor: Coba mb sofah pegang foto ini (foto ulat).

Konseli : Sudah berani untuk memegang ulat.

Konselor: mb sofah untuk saat ini anda sudah mulai adanya perubahan.

Mb sofah ini saya memiliki mainan ulat, bagaimana apakah anda berani untuk

memegangnya.

Konseli : (ekspresi ragu) baik saya akan mencoba bu?

Konselor: Baik saya akan mengambil mainan ulat dulu

Konseli : “Iya” bu.

Konselor: Menyadarkan mainan ulat pada shofah, coba sentuh ulat itu mb..

Konseli : (Agak ragu-ragu) sambil menyentuh ulat secara perlahan-lahan dan histeris.

Konselor: Coba mb tenang dahulu ( sambil menggeleng pundak konseli).

Ulat yang sebelumnya sudah do brousing.

Konseli : “Histeris”.

Konselor: “Menengkan konseli”.

Konseli : ( Mulai tenang).

Konselor: Bagaimana mb sofah apakah berhenti sampai sini saja atau di lanjut dilain hari?”.

Konseli : Saya rasa cukup untuk hari ini diganti di lain hari saja, “bagaimana bu?”.

Konselor: “Iya saya bisa”.

Hari ke 2

Konselor: Bagaimana mb shofah siap untuk melanjutkan konseling?

Konseli “ Iya”, saya sudah siap.

Konselor: Disini saya akan menunjukkan gambar ulat kembali, apakah anda sudah siap?

Konseli : Iya bu saya sudah siap.

Konselor: (Menunjukkan gambar ulat) kepada konseli.

“Coba sekali lagi anda coba”.

Konseli : Baiklah bu… “(sambil memegang dan tidak histeris)”.

Summary

Konselor: Sejauh ini mb sofah merasa sudah ada perubahan mengenai phobianya ? dari melihat ulat

dan sampai memegang ulat.

Konseli : Iya sama-sama bu… jangan sungkan-sungkan lagi mb sofah ketika meminta bantuan lagi.

Konseli : “(Bersalaman dengan konselor dan meninggalkan ruangan)”.

Materi Penguasaan Kontens dalam Layanan BK

Standar
Materi Penguasaan Kontens dalam Layanan BK

Materi Penguasaan Kontens

Memanfaatkan Waktu Luang

Waktu luang adalah waktu yang di gunakan selain untuk bekerja. Dari segi cara pengisian, waktu luang adalah waktu yang dapat di isi untuk kegiatan pilihan atau dapat di manfaatkan untuk apa saja sesuka hati. Dari sisi fungsi, waktu luang adalah waktu yang di gunakan sebagai sarana mengembangkan potensi, meningkatkan mutu pribadi, sarana rekreasi dan sebagainya.

Di gunakan untuk apa waktu luang Anda?

Ada baiknya waktu Anda gunakan untuk menambah kesejahteraan pribadi, seperti untuk kesehatan, refresing, dan hal-hal lain yang lebih berguna. Daripada hanya untuk nonton TV, apalagi nonton gosip. Alangkah baiknya kalau waktu luang Anda memberikan manfaat luar biasa buat kesuksesan Anda.

Manfaat Mengisi Waktu Luang

Mengisi waktu tersebut dengan hal-hal yang berguna sangat bermanfaat dalam artian untuk kesejahteraan pribadi adalah sebagai berikut. a. Bisa meningkatkan kesejahteraan jasmani b. Meningkatkan kesegaran mental dan emosional c. Membuat kita mengenali kemampuan diri sendiri d. Mendukung konsep diri serta harga diri e. Sarana belajar dan pengembangan kemampuan f. Pelampiasan ekspresi dan keseimbangan jasmani, mental, intelektual, spiritual, maupun estetika g. Melakukan penghayatan terhadap apa yang Anda sukai tanpa tidak memperdulikan segi materi. h. dan sebagainya.

Memanfaatkan waktu luang

Anda memiliki waktu luang? maka manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya, karena waktu luang itu sangat berharga. Banyak cara yang bisa di lakukan untuk memanfaatkan waktu luang Anda. Yang penting, jangan melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Anda bisa memilih kegiatan-kegiatan yang akan di lakukan untuk mengisi waktu luang Anda. Kegiatan tersebut dapat di lihat dari berdasarkan fungsinya. contoh pemanfaatan waktu luang sebagai berikut :

1. Memikirkan Tujuan Anda. Ambillah waktu 10 menit untuk memikirkan tujuan-tujuan Anda. Jikalau Anda tidak memiliki daftar tujuan, mulailah untuk membuatnya.

2.Tuliskanlah daftar langkah penyelesaiannya untuk beberapa minggu berikutnya untuk menjadikan tujuan-tujuan Anda menjadi kenyataan. Langkah penyelesaian apakah yang akan Anda lakukan hari ini? Semakin Anda memfokuskan diri kepada tujuan-tujuan Anda, semakin semuanya akan menjadi kenyataan.

3.  Mencari ide-ide. Salah satu hal favorit saya yang lainnya bila saya hanya memiliki 5 menit – saya akan mengeluarkan notebook saku saya dan mulai membuat daftar ide bagi sebuah proyek atau artikel. Apa pun yang nantinya bisa muncul dalam pekerjaan atau kehidupan pribadi Anda.

4. Membersihkan meja. Anda bisa mengisi waktu luang dengan membersihkan meja belajar Anda. Hal ini mungkin hanya memakan waktu 10 menit dari waktu luang Anda. Meja yang rapi akan membuat Anda semangat untuk bekerja.

5.  Berolah raga. Tidak pernah memiliki waktu berolah raga? 10 menit cukup untuk melakukan push up. Lakukan 2-3 kali sehari, dan Anda akan merasa jauh lebih fit dan semangat.

6.  Berjalan-jalan. Ada salah satu bentuk berolah raga yang tidak butuh waktu lama, tetapi dapat dilakukan di mana saja, bahkan lebih penting lagi hal ini adalah cara yang baik untuk meregangkan kaki Anda dari duduk di belakang meja terlalu lama dan membuat aliran darah lancar. Bila Anda sedang kehabisan ide, berjalan-jalan adalah cara yang baik untuk melancarkannya.

7.  Follow up. Simpanlah sebuah daftar follow-up bagi segala sesuatu yang sedang Anda tunggu. Jawaban telepon, email, memo – apapun yang orang lain janjikan atau berhutang kepada Anda, taruhlah dalam daftar. Ketika Anda memiliki waktu senggang 10 menit, lakukan follow up melalui telepon dan email.

8.   Meditasi. Meditasi singkat selama 5-10 menit (atau tidur sebentar) dapat amat menyegarkan pikiran Anda.

9. Penelitian. Bila saya memiliki hanya beberapa menit saja, saya akan melakukan penelitian dengan cepat dan membuat beberapa catatan. Lakukan hal ini beberapa kali, dan saya selesai melakukannya!

10. Outline. Sama dengan melakukan brainstorming, tetapi hal ini lebih formal. Saya senang membuat outline dari sebuah artikel, laporan atau proyek yang rumit, dan hal ini menolong mempercepat semuanya bila sudah mulai menuliskannya. Dan membuat outline hanya butuh beberapa menit saja.

11. Lakukan persiapan. Membuat outline adalah salah satu cara untuk mempersiapkan suatu pekerjaan yang lebih lama, tetapi ada lebih banyak cara untuk melakukan persiapan bagi tugas berikutnya di dalam daftar Anda. Anda bisa saja tidak memiliki waktu untuk benar-benar menyiapkan tugas Anda sekarang juga, tetapi sekembali dari meeting atau makan siang, sebaiknya Anda sudah melakukan persiapan dan siap melangkah.

12.   Selalu lebih awal. Memiliki sedikit waktu senggang sebelum meeting? Datanglah lebih awal sebelum mulai meeting. Memang tidak menyenangkan datang terlebih dulu dan belum ada siapapun yang hadir, tetapi sebenarnya orang menghargai mereka yang muncul lebih awal. Hal ini lebih baik daripada terlambat.

13.Catatan harian. Kalau Anda terbiasa menulis catatan harian, maka Anda bisa memanfaatkan waktu Anda untuk menulis catatan harian An Itulah tips menggunakan waktu luang yang perlu kita ketahui. Apakah Anda sudah menggunakan waktu luang dengan benar

Sumber :

http://www.ilawati-apt.com/tips-menggunakan-waktu-luang/

diunduhtanggal 14 april 2015 pukul 14.30

Makalah Konseling Behavioral

Standar

Makalah Konseling Behavioral

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Tujuan

Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah praktikum konseling individual, selain itu juga bertujuan agar bisa mengetahui dan memahami isi materi yang ada di dalam konseling behavioral seperti konsep dasar pendekatan konseling behavioral, asumsi perilaku bermasalah konseling behavioral, tujuan konseling behavioral, peran konseling behavioral, dan juga teknik-teknik di dalam konseling behavioral.

  1. Pengambilan Sumber :

Corey, Gerald. (2010). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi.

Refika Aditama. Bandung.

Corey, Gerald. (2003). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi.

Bandung : PT Refika Aditama

Fauzan, Lutfi. (2004). Pendekatan-Pendekatan Konseling Individual.

Malang : Elang Mas

Pujosuwarno Sayekti, (1993), Berbagai Pendekatan Dalam

Konseling, Yogyakarta :   Menara Mas Offset.

http://ajunknia90.blogspot.com/2012/01/konseling-behavioral.html

(di poskan oleh nia sabtu 14 januari 2012 dan di unduh tanggal 12 mei 20015 pukul 14.00)

https://yuni99.wordpress.com/2011/04/13/teknik-konseling-behavioral/

(di poskan oleh yuni tanggal 13 april 2011 dan di unduh tanggal 12 mei 20015 pukul 14.05)

http://ferryguidance.blogspot.com/2013/05/teori-konseling-behavioral.html

(di poskan oleh ferry mei 2013 dan di unduh tanggal 12 mei 20015 pukul 14.12)

http://ikanoviyasari.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

(di poskan oleh ikanoviasari minggu 7 april 2013 dan di unduh tanggal 12 mei 20015 pukul 14.12)

http://juergenkollink.blogspot.com/2013/05/konseling-pendekatan-behavior-part-1.html

di poskan oleh juergenkolink minggu 12 mei 2013 dan di unduh tanggal 12 mei 20015 pukul 14.15)

https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/23/pendekatan-konseling-behavioral/

di poskan oleh akhmad sudrajat tanggal 23 januari 2008 dan di unduh tanggal 14 mei 20015 pukul 15.00)

http://adeksaputrablog.blogspot.com/2012/11/konseling-behavioristik-konbe.html

di poskan oleh adek saputra pada november 2012 dan di unduh tanggal 14 mei 20015 pukul 15.05)

http://fitrika1127.blogspot.com/2012/05/konseling-perilaku.html

di poskan oleh fitrika1127 pada selasa 1 mei 2012 dan di unduh tanggal 14 mei 20015 pukul 15.10)

http://adipsi.blogspot.com/2011/04/pendekatan-konseling-behavioristik.html

di poskan oleh adi farman pada 1 april 2011 dan di unduh tanggal 17mei 20015 pukul 20.10)

  1. Tokoh dan riwayat konseling

     Sejarah konseling behavioral bermula pada Ivan Sechenov (1829-1905), bapak psikologi Rusia. Struktur hipotetiknya, dikembangkan sekitar 1863, yang memandang fungsi-fungsi otak sebagai pancaran refleks, yang mempunyai tiga komponen : input sensorik, proses dan “efferent out flow”.menurut Sechenov, semua tingkah laku terdiri atas respon-respon kepada stimulasi-stimulasi, dengan interaksi-interaksi dari rangsangan dan hambatan yang beroperasi pada bagian sentral dari pencaran refleks. Dengan menggunakan model ini, Pavlov (1849-1936) memulai serangkaian eksperimen klasik dimana respon-respon air liur anjing dirangsang dengan berbagai stimulasi. Pada eksperimen ini ia mendomonstrasikanist banyak fenomena yang kemudian diperluas kepada semua tipe belajar. Penerjemah karya pavlov ke dalam bahasa inggris tahun 1927 mendorong pengambil alihan pendekatan behavioristik dalam mempelajari psikologi di Amerika Serikat juga buku J.B Watson, “psychology from the stand point of a behavioris” (1919), mempunyai pengaruh penting pada teori dan eksperimen psikologi di Amerika.

     Konseling Behavioral pada mulanya disebut dengan Terapi Perilaku yang berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan Skinnerian dari B.F. Skinner. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1958) untuk menanggulangi (treatment) neurosis. Tujuan terapi adalah untuk memodifikasi koneksi-koneksi dan metode-metode Stimulus-Respon (S-R) sedapat mungkin.

     Dasar teori terapi behavioral adalah bahwa perilaku dapat dipahami sebagai hasil kombinasi.Dalam hal ini Skinner walaupun dipengaruhi teori S-R, tetapi dia punya pandangan tersendiri mengenai perilaku,

Perkembangan pendekatan behavioral diawali pada tahun 1950-an dan awal 1960-an sebagai awal radikal menentang perspektif psikoanalisis yang dominan. Pendekatan ini dihasilkan berdasarkan hasil eksperimen tokoh behavioral yang memberikan sumbangan pada prinsip-prinsip belajar dalam tingkah laku manusia. Secara garis besar sejarah perkembangan pendekatan behavioral terdiri dari sebagai berikut :

  • Classical Conditioning

Ivan Pavlov adalah seorang psikolog dari Rusia lahir di Rjsan 14 September 1849 dan meninggal di Leningrad 27 Februari 1936. Hasil penelitiannya bersama Watson yang terkenal adalah classical conditioning. Penelitiannya yang paling terkenal adalah menggunakan anjing yang dalam keadaan lapar ditempatkan diruang kedap suara. Dalam penelitiannya tersebut, Pavlov menyimpulkan bahwa Respon (tindakan) dapat terjadi apabila ada Stimulus (rangasangan).

2). Operant Conditioning

Tokoh yang mengembangkan operant conditioning adalah BF. Skinner Pengkondisian operan, salah satu aliran utama lainnya dari pendekatan terapi yang berlandaskan teori belajar, melibatkan pemberian ganjaran kepada individu atas pemunculan tingkah lakunya (yang diharapkan) pada saat tingkah laku itu muncul.

Pengkondisian operan ini dikenal dengan istilah pengkondisian instrumental (instrumental conditioning) karena memperlihatkan bahwa tingkah laku instrumental bisa dimunculkan oleh organisme yang aktif sebelum penguatan diberikan untuk tingkah laku tersebut.

Skinner, yang dianggap sebagai pencetus gagasan pengkondisian operan, telah mengembangkan prinsip-prinsip penguatan yang digunakan pada upaya memperoleh pola-pola tingkah laku tertentu yang dipelajari. Dalam pengkondisian operan, pemberian penguatan positif bisa memperkuat tingkah laku, sedangkan pemberian penguatan negatif bisa memperlemah tingkah laku. Tingkah laku berkondisi muncul di lingkungan dan instrumental bagi perolehan ganjar.

Sering kali orang mengalami kesulitan karena tingkah lakunya berlebihan atau ia kekurangan tingkah laku yang pantas. Konselor yang mengambil pendekatan behavioral membantu konseli untuk belajar cara bertindak yang baru dan pantas, atau membantu mereka untuk memodifikasi atau mengeliminasi tingkah laku yang berlebihan. Dengan kata lain, membantu konseli agar tingkah lakunya menjadi lebih adaptif dan menghilangkan yang maladaptif (Gladding, 2004).

Pandangan teori behavioral secara umum terhadap perilaku manusia menyatakan bahwa, antara lain :

  • Respon tidak selalu ditimbulkan oleh stimulus, akan tetapi lebih kuat oleh pengaruh penguatan (reinforcement).
  • Lebih menekankan pada studi subjek individual dibandingkan generalisasi kecenderungan kelompok.
  • Menekankan pada penciptaan situasi tertentu terhadap terbentuknya perilaku dibandingkan motivasi di dalam diri.
  • Para konselor behavioral memandang kelainan perilaku sebagai kebiasaan yang dipelajari. Karena itu dapat diubah dengan mengganti situasi positif yang direkayasa sehingga kelainan perilaku berubah menjadi positif.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Konsep dasar pendekatan konseling behavioral

            Konseling Behavioral adalah salah satu  dari teori-teori konseling yang ada pada saat  ini. Konseling  behavioral  merupakan  bentuk  adaptasi  dari  aliran  psikologi behavioristik, yang menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak.

            Behaviorisme adalah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Behaviorisme lahir sebagai reaksi atas psikoanalisis yang berbicara tentang alam bawah yang tidak tampak.  Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan. Terapi perilaku ini lebih mengkonsentrasikan pada modifikasi tindakan, dan berfokus pada perilaku saat ini daripada masa lampau. Belakangan kaum behavioris lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan ( Rakhmat, 1994:21).

            Behaviorisme memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan di sekitarnya. Tingkah laku ., pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya.

             Istilah behavioral conseling pertama sekali dikemukakan oleh Krumboltz.Ciri-ciri utama behavioral conseling ini adalah

  1. Proses pendidikan :Konseling membantu klien mempelajari tingkah laku baru untuk memecahkan masalahnya.
  2. Teknik rakit secara individual: Dalam proses konseling, menentukan tujuan konseling, proses asesmen,dan teknik-teknik dibangun oleh klien dengan bantuan konselor.
  3. Metodologi ilmiah: Konseling behavioral dilandasi oleh metode ilmiah dalam melakukan assesmen dan evaluasi konseling.

                          Pendekatan behavioral didasari oleh pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia yaitu pendekatan yang sistematik dan terstruktur dalam konseling. Pandangan ini melihat individu sebagai produk dari kondisioning sosial, sedikitsekali melihat potensi individu sebagai prosedur lingkungan. Pada awal pendekatan ini hanya mempercayai hal yang dapat diamati dan diukur sebagaisesuatu yang sah dalam pengukuran kepribadian (radical behaviorism), dan dikembangkan lebih lanjut yang mulai menerima fenomena yang abstrak seperti id, ego, super ego dan ilusi. Pendekatan ini memandang perilaku yang malajustru sebagai hasil belajar dari lingkungan secara keliru.

                          Konseling behavioral dikenal juga dengan modifikasi perilaku yang dapat diartikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk mengubah perilaku.Modifikasi perilaku memiliki kelebihan dalam menangani masalah-masalah yang di alami oleh individu, yaitu :

  1. Langkah-langkah dalam memodifikasi perilaku dapat direncanakan terlebih dahulu.
  2. Perincian pelaksanaan dapat diubah selama treatmen disesuaikan dengan kebutuhan konseling.
  3. Bila berdasarkan evaluasi sebuah teknik gagal memberikan perubahan pada klien, teknik tersebut dapat diganti dengan teknik lain.
  4. Teknik-teknik konseling dapat dijelaskan dan diatur secara rasional sertadapat diprediksi dan dievaluasi secara objektif.
  5. Waktu yang dibutuhkan lebih singkat

                         Dalam memahami tingkah laku, terdapat beberapa model tingkah laku yang dipengaruhi oleh teori-teori psikologi. Model-model tersebut antara lain:

  1. Model psikodinamika yaitu tingkah laku manusia ditentukan kehidupandinamika intra-psikis individu (id, ego, superego).
  2. Model biofisik yaitu tingkah laku ditentukan oleh organisasi neurologi,belajar perseptual motor, kesiapan fisiologis, integrasi dan perkembangansensori.
  3. Model lingkungan yaitu tingkah laku ditentukan oleh interaksi antaraindividu dan lingkungan.
  4. Model tingkah laku yaitu tingkah laku dapat diobservasi dan diukur.

            Konselor behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu kepedulian dari para konselor sebagai kriteria pengukuran keberhasilan konseling. Menurut pandangan ini manusia manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar seperti yang di kemukakan oleh Freud.

            Dalam konsep behavioral, perilaku merupakan hasil belajar, sehinga dapat diubah dengan manupulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu memngubah perilakunya agar dapat memecahkan masalah.

            Menurut Pavlov, Belajar merupakan proses perubahan perilaku yang disebabkan oleh pengalaman. perubahan Anak yang merasa ketakutan ketika berjalan sendiri pada malam hari merupakan hasil dari belajar anak telah belajar menghubungkan kegelapan dengan suatu keadaan yang menyeramkan. Reaksi ini dapat diperoleh secara tidak sadar maupun secara sadar dan juga dapat diperoleh dari hasil belajar

            Thoresen (shertzer & Stone, 1980, 188) memberi ciri konseling Behavioral sebagai berikut:

  1. Kebanyakan perilaku manusia dipelajari dan karna itu dapat di ubah.
  2. Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individu dapat membantu dalam mengubah perilaku-perilaaku yang relevan. Prosedur-prosedur konseling beerusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan dalam perilaku klien dengan mengubah lingkungan.
  3. Prinsip-prinsip belajar sepesial seperti “reinforcement” dan “social modelling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
  4. Keefektifan konselingdan hasil konseling dinilai dari perubahan dalam perilaku-perilaku khusus diluar wawancara prosedur-prosedur konseling.
  5. Posedur-prosedur konseling tidak statis , tetap atau ditentukan sebelumnya, tetapi dapat secara khusus di disain untuk klien dalam memecahkan masalah khusus.

Selanjutnya dikatakan bahwa terapi Behavioral berusaha menerapkan metode dan prosedur eksperimental ke dalam praktek klinis. Oleh karena itu maka terapi yang baik adalah dari ilmu yang baik.

Hal yang mendasar dalam konseling Behavioral adalah prinsip penguatan (rainforcement) sebagai suatu kreasi dalam upaya memperkuat atau mendukung suatu perilaku yang dikendaki. Konsep penguatan ini berasal dari percobaan Pavlov (teori classical conditioning), dan Skinner (teori intrumental conditioning). Ada tiga macam hal yang yang dapat memberi pengguatan yaitu (1) posistive reinvorcer. (2) negative reinvorcer. (3) no consequence and neutral stimuli.

  • Pendangan tentang manusia

Dalam pandangan behavioral manusia pada hakikatnya bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan dengan kontrol yang terbatas, hidup dalam alam deterministik dan sedikit peran aktifnya dalam memilih martabatnya. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.

Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan, melalui hukum-hukum belajar pembiasaan klasik, pembiasaan operan, dan peniruan. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.

Manusia cenderung akan mengambil stimulus yang menyenangkan dan menghindarkan stimulus yang tidak menyenangkan, sehingga dapat menimbulkan tingkah laku yang salah atau tidak sesuai. Banyak tingkah laku yang menyimpang karena individu hanya mengambil sesuatu yang disenangi dan menghindar dari yang tidak disenangi.

Menurut Corey (2003: 198) menyatakan bahwa pendekatan behavior tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap manusia dipandang  memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada dasarnya di dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap tingkahlaku manusia itu dipelajari.

Sementara itu, Winkel (2004: 420) menyatakan bahwa konseling behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian bersifat psikologis, yaitu:

  • Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek.
  • Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkahlakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
  • Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri suatu pola tingkahlaku yang baru melalui proses belajar.
  • Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.

Berdasarkan dua pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa hakikat manusia pada pandangan behavioris yaitu pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apapun, semua tingkahlaku manusia adalah hasil belajar. Manusia pun dapat mempengaruhi orang lain, begitu pula sebaliknya. Manusia dapat menggunakan orang lain sebagai model pembelajarannya.

Hakikat manusia menurut pandekatan konseling behavioral adalah pasif dan mekanistik, manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan lingkungan yang membentuknya. Manusia merespon lingkungan dengan kontrol terbatas, hidup dalam alam deterministik dan memiliki sedikit peran aktif dalam memilih martabatnya. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya, dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.

Dalam pandangan behavioristik, kepribadian manusia merupakan perilaku yang terbentuk berdasarkan hasil pengalaman yang diperoleh dari interaksi seseorang dengan lingkungannya. Kepribadian merupakan pengalaman seseorang akibat proses belajar. Aliran behavioristik memiliki asumsi-asumsi dasar terhadap perilaku manusia sebagai berikut; (1)manusia memiliki potensi untuk segala jenis perilaku, (2)manusia mampu mengkonsepsikan dan mengendalikan perilakunya,(3)manusia mampu mendapatkan perilaku baru, (4)manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain sebagaimana perilakunya juga dipengaruhi oleh orang lain.

  • Pandangan tentang Kepribadian

        Hakikat kepribadian menurut pendekatan behavioral adalah tingkah laku. Selanjutnya diasumsikan bahwa tingkah laku dibentuk berdasarkan hasil dari segenap pengalamannya yang berupa interaksi invidu dengan lingkungannya. Kepribadian seseorang merupakan cerminan dari pengalaman, yaitu situasi atau stimulus yang diterimanya. Merujuk asumsi ini maka untuk memahami kepribadian manusia tidak lain adalah mempelajari dan memahami bagaimana terbentuknya suatu tingkah laku.

  1. Teori Pengkondisian  Klasik

              Menurut teori ini tingkah laku manusia merupakan fungsi dari stimulus. Eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap anjing telah menunjukkan bahwa tingkah laku belajar terjadi karena adanya asosiasi antara tingkah laku dengan lingkungannya. Belajar dengan asosiasi ini biasanya disebut classical conditioning. Pavlov mengklasifikasikan lingkungan menjadi dua jenis, yaitu Unconditioning Stimulus(UCS) dan Conditioning Stimulus (CS). UCS adalah lingkungan yang secara alamiah menimbulkan respon tertentu yang disebut sebagai Unconditionting Respone (UCR), sedangkan CS tidak otomatis menimbulkan respon bagi individu, kecuali ada pengkondisian tertentu. Respon yang terjadi akibat pengkondisian CS disebut Conditioning Respone (CR).

              Dalam eksperimen tersebut ditemukan bahwa tingkah laku tertentu dapat terbentuk dengan suatu CR, dan UCR dapat memperkuat hubungan CS dengan CR. Hubungan CS dengan CR dapat saja terus berlangsung dan dipertahankan meskipun individu tidak disertai oleh UCS dan dalam keadaan lain asosiasi ini dapat melamah tanpa diikuti oleh UCS.

              Eksperimen yang dilakukan Pavlov ini dapat digunakan untuk menjelaskan pembentukan tingkah laku manusia. Gangguan tingkah laku neurosis khususnya gangguan kecemasan dan phobia banyak terjadi karena aosiasi antara stimulus dengan respon individu. Pada mulanya lingkungan yang menjadi sumber itu bersifat netral bagi individu, tetapi karene terkondisikan bersamaan dengan UCS tertentu, maka dapat memunculkan tingkah laku penyesuaian diri yang salah. Dalam pembentukan tingkah laku yang normal dapat terjadi dalam perilaku rajin belajar misalnya, yang terbentuk karena adanya asosiasi.

  1. Teori Pengkondisian Operan

              Teori pengkondian yang dikembangkan oleh Skinner ini menekankan pada peran lingkungan dalam bentuk konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti dari suatu tingkah laku.

              Menurut teori ini, tingkah laku individu terbentuk atau dipertahankan sangat ditentukan oleh konsekuensi yang menyertainya. Jika konsekuensinya menyenangkan maka tingkah lakunya cenderung dipertahankan dan diulang, sebaliknya jika konsekuensinya tidak menyenangkan maka tingkah lakunya akan dikurangi atau dihilangkan.                    Dari prinsip ini dapat dipahami bahwa tingkah laku bermasalah dapat terjadi dan dipertahankan oleh individu di antaranya karena memperoleh konsekuensi yang menyenangkan yang berupa ganjaran dari lingkungan.  Konsekuensi yang tidak tidak menyenangkan yang berupa hukuman tidak cukup kuat untuk mengurangi atau melawan ganjaran yang diperoleh dari lingkungan lainnya. Dipertegas oleh Skinner bahwa tingkah laku operan sebagai tingkah laku belajar merupakan tingkah laku yang non reflektif, yang memiliki prinsip-prinsip yang lebih aktif dibandingkan dengan pengkondisian klasik.

  1. Teori Peniruan

              Asumsi dasar teori yang dikembangkan oleh Bandura ini adalah bahwa tingkah laku dapat terbentuk melalui observasi model secara langsung yang disebut dengan imitasi dan melalui pengamatan tidak langsung yang disebut denganvicarious conditioning. Tingkah laku yang terbentuk karena mencontoh langsung maupun mencontoh tidak langsung akan menjadi kuat kalau mendapat ganjaran.

              Paparan kerangka teori behavioral di atas menunjukkan bahwa tingkah laku yang tampak lebih diutamakan dibadingkan dengan sikap atau perasaan individu.

              Pandangan para behavioris juga menganggap manusia sama saja, tidak ada yang baik dan tidak ada yang jahat. Semasa lahirnya mereka adalah sama, masing-masing mempunyai potensi seimbang ke arah menjadi sama ada baik ataupun jahat. Hasilnya, ahli-ahli teori tingkah laku tidak sepenuhnya memberikan definisi tabiat asas kemanusiaan itu yang boleh membantu teori-teori mereka sendiri. Bagaimanapun, Dustin dan George menyenaraikan empat andaian berhubung dengan tabiat kemanusiaan dan bagaimana manusia berubah yang menjadi inti kepada konseling tingkah laku itu sendiri, diantaranya adalah :

  • Manusia itu dilihat sebagai manusia biasa, tidak ada yang sepenuh-penuhnya jahat atau sepenuh-penuhnya baik, tetapi adalah sebagai organisme berpengalaman yang mempunyai potensi kepada semua jenis tingkah laku.
  • Manusia berupaya memahami konsep serta mengawal tingkah lakunya sendiri.
  • Manusia berupaya memperoleh tingkah lakunya yang baru.
  • Manusia mempunyai keupayaan untuk mempengaruhi tingkah laku lain sebagaimana ia dipengaruhi oleh orang lain terhadap tingkah lakunya sendiri.

              Bagi konselor tingkah laku, individu adalah hasil daripada pengalaman. Ahli-ahli tingkah laku melihat tingkah laku yang salah terima itu sebagai makhluk yang mempelajari tingkah lakunya, perkembangan dan pembaikannya adalah sama dengan sebarang tingkah laku lain. Satu implikasi daripada pandangan ini ialah tidak adanya tingkah laku yang salah terima bagi diri mereka itu. Selain itu sesuatu tingkah laku itu menjadi wajar disebabkan seseorang itu menganggapnya tidak begitu. Setengah-setengah tingkah laku mungkin dianggap wajar di rumah, tetapi tidak wajar di sekolah, begitu juga sebaliknya.

  1. Asumsi Perilaku Bermasalah

Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah.Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungan.

Tingkah laku maladaftif terjadi karena kesalah pahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar

Perilaku yang bermasalah dalam pandangan Behavioris dapat dimaknakan sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negative atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Perilaku yang salah suai terbentuk melalui proses interaksi dengan lingkungannya. Artinya bahwa perilaku individu itu meskipun secara social adalah tidak tepat, dalam beberapa saat memperoleh ganjaran dari pihak tertentu Dari cara demikian akhirnya perilaku yang tidak diharapkan secara sosial atau perilaku yang tidak tepat itu menguat pada individu

Perilaku yang salah suai dalam penyesuaian dengan demikian berbeda dengan perilaku normal. Perbedaan ini tidak terletak pada cara mempelajarinya, tetapi pada tingkatannya yaitu tidak wajar dipandang. Perilaku yang perlu dipertahankan atau dibentuk pada individu adalah perilaku yang bukan sekedar memperoleh kepuasan pada jangka pendek, tetapi perilaku yang tidak menghadapi kesulitan-kesulitan yang lebih luas, dan dalam jangka yang lebih panjang.

Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.

Dilihat dari sudut pandang behavioris, perilaku bermasalah dapat dimaknai sebagai perilaku atau kebiasaan yang negatif atau dapat dikatakan sebagai perilaku yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.     Masalah perilaku yang biasanya sering terjadi pada konseli meliputi serangan panik, membantu anak untuk mengatasi rasa takut terhadap gelap, meningkatkan produktivitas kreatif, mengelola kecemasan dalam situasi sosial, mendorong berbicara di depan kelas, pengendalian merokok, dan berurusan dengan depresi

Munculnya perilaku bermasalah disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

  • adanya salah penyesuaian melalui proses interaksi dengan lingkungan.
  • adanya pembelajaran yang salah dalam keluarga, lingkungan sekolah, tempat bermain dan lain-lain. Seperti halnya kehidupan di kota-kota besar pada saat ini begitu kompleks dan bervariasi. Sikap hidup menjadi individualistis, egois, apatis dan hubungan sosial menjadi renggang.

Dalam suasana hidup seperti di atas, banyak orang menggunakan mekanisme pelarian dan mekanisme pertahanan diri yang negatif. Untuk dapat bertahan dan menghindari kesulitan hidup tidak sedikit terjadi tindakan kriminal. Bentuk mekanisme yang negatif menyebabkan timbulnya tingkah laku yang tidak normal (patologis).

Menurut pandangan behavioral, perilaku bermasalah adalah kebiasaan negatif atau perilaku yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Perilaku bermasalah ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah adanya salah suai dalam proses interaksi dengan lingkungan, adanya pembelajaran yang salah dalam rumah tangga, tempat bermain, lingkungan sekolah, dan lingkungan lainnya. Perilaku dikatakan salah suai jika perilaku tersebut tidak membawa kepuasan bagi individu, atau membawa individu kepada konflik dengan lingkungannya.

Terbentuknya suatu perilaku dikarenakan adanya pembelajaran, perilaku itu akan dipertahankan atau dihilangkan tergantung pada peran lingkungan dalam bentuk konsekuensi yang menyertai perilaku tersebut. Misalnya perilaku merusak (destructif) di kelas dapat bertahan karena adanya ganjaran (reinforcement) berupa pujian dan dukungan dari sebagian teman-temannya dan merasa puas dengan ganjaran itu, sedangkan hukuman (punishment) yang diberikan oleh guru tidak cukup kuat untuk melawan kekuatan ganjaran yang diperolehnya. Perubahan perilaku yang diharapkan dapat terjadi jika pemberian ganjaran atau hukuman dapat diberikan secara tepat.

Terbentuknya perilaku yang dicontohkan di atas disebabkan karena adanya peran lingkungan dalam bentuk konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti dari suatu perilaku dan hal itu termasuk dalam teori belajar perilaku operan dari Skinner. Selain teori belajar Skinner, Bandura juga mencontohkan perilaku agresif di kalangan anak-anak.

Timbulnya perilaku bermasalah yang ditandai dengan tindakan melukai atau menyerang baik secara fisik maupun verbal, dikarenakan adanya proses mencontoh atau modeling baik secara langsung yang disebut imitasi atau melalui pengamatan tidak langsung (vicarious). Misalnya anak bersikap agresif karena sering dipukuli atau anak sering melihat orang tuanya bertengkar bahkan lewat media televisi anak dapat mencontoh adegan-adegan yang bersifat kekerasan.

Perilaku yang salah dalam penyesuaian berbeda dengan perilaku normal. Perbedaan ini tidak terletak pada cara mempelajarinya, tetapi pada tingkatannya, yaitu tidak wajar dipandang, dengan kata lain perilaku dikatakan mengalami salah penyesuaian jika tidak selamanya membawa kepuasan bagi individu atau akhirnya membawa individu pada konflik dengan lingkunganya. Rasa puas yang dirasakan bukanlah ukuran bahwa perilaku itu harus dipertahankan, karena boleh jadi perilaku itu akan menimbulkan kesulitan di kemudian hari. Perilaku yang perlu dipertahankan atau dibentuk pada individu adalah perilaku yang tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan yang lebih luas dan dalam jangka yang lebih panjang.

Menurut Latipun (2008: 135) menyatakan bahwa perilaku yang bermasalah dalam pandangan behavioris dapat dimaknai sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negative atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Konsleing behavioral digunakan untuk membantu masalah konseli yang terkait dengan perilaku-perilaku maladaptif. perilaku yang bermasalah dalam pandangan behaviorist dapat dimaknai sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. konseling behavioral juga dapat menangani masalah perilaku mulai dari kegagalan individu untuk belajar merespon secara adaptif hingga mengatasi gejala neurosis Sedangkan menurut Feist & Feist (2008: 398) menyatakan bahwa perilaku yang tidak tepat meliputi:

  1. Perilaku terlalu bersemangat yang tidak sesuai dengan situasi yang dihadapi, tetapi mungkin cocok jika dilihat berdasarkan sejarah masa lalunya.
  2. Perilaku yang terlalu kaku, digunakan untuk menghindari stimuli yang tidak diinginkan terkait dengan hukuman.
  3. Perilaku yang memblokir realitas, yaitu mengabaikan begitu saja stimuli yang tidak diinginkan.
  4. Pengetahuan akan kelemahan diri yang termanifestasikan dalam respon-respon-respon menipu diri.

Bagi individu tingkah laku yang tidak tepat akan menimbulkan berbagai kesulitan baik bagi diri individu itu sendiri, maupun terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut aliran behavioral tingkah laku yang tidak tepat dipelajari dengan cara yang sama dengan tingkah laku yang tepat. Tingkah laku ini dipelajari karena pada perkembangan tertentu pernah menjadi jalan untuk memperoleh kepuasan.

Misalnya siswa berbuat kenakalan dikelas karena mereka belajar bahwa cara itulah yang perlu efektif untuk menarik perhatian guru. Hukuman guru diterima anak sebagai hadist yang memberi kepuasan kebutuhan perhatian. Walaupun orang lain memandang tingkah laku itu tidak tepat, namun bagi siswa dapat memberi reinforcement yang diharapkannya. Sama halnya, orang yang menarik diri, yang di pandang terisolir secara sosial. Hadiah dari tingkah laku menarik diri adalah tidak perlu berpartisipasi dengan situasi yang menakutkan, dimana takut ini juga dipelajari melalui pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu.

Contoh lain : seorang anak yang tidak mengerjakan soal-soal mata pelajaran matematika, bagi siswa lain tentu keadaan ini merugikan, karena tidak boleh mengikuti mata pelajaran. Namun bagi siswa tersebut merasa puas karena ia tidak senang dengan mata pelajaran matematika sebagai pekerjaan rumah. Guru menyuruhnya keluar tidak mengikuti pelajaran matematika, ia merasa puas karena dapat memberikan reinforcement yang diharapkan.

Tingkah laku yang tidak tepat berbeda dengan yang tepat, hanya dalam derajat tingkah laku itu mengecewakan individu dan lingkungannya. secara luas, kebudingayaan ikut menentukan mana tingkah laku yang tepat dan tidak tepat.dari interaksi dengan kebudayaan impuls individu belajar merangsang apa saja yang dapat memuaskan dan tidak dapat memuaskan diri dan lingkungannya, dan menyususnnya dalam hirarki khasanah tingkah laku.

Tingkah laku manusia dapat dilihat dari aspek kondisi yang menyertai atau akibat yang menyertai tingkah laku setelah terbentuk dengan anticedent yang disebut dengan consequence.

            Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar : (Alwisol, 2011 : 322)

  1. Pembiasaan klasik, yang ditandai dengan satu stimulus yang menghasilkan satu respon. Misalnya bayi merespon suara keras dengan takut.
  2. Pembiasaan operan, ditandai dengan adanya satu stimulus yang menghasilkan banyak respon. Pengondisian operan memberikan penguatan positif yang bisa memperkuat tingkah laku. Sebaliknya penguatan negatif bisa memperlemah tingkah laku. Munculnya perilaku akan semakin kuat apabila diberikan penguatan positif dan akan menghilang apabila dikenai hukuman.
  3. Peniruan, yaitu orang tidak memerlukan reinforcement agar bisa memiliki tingkah laku melainkan ia meniru. Syarat dalam meniru tingkah laku yaitu:Tingkah laku yang ditiru memang mampu untuk ditiru oleh individu yang bersangkutan dan tingkah laku yang ditiru adalah perbuatan yang dinilai publik positif.

Konseling Behavioral sebagai model konseling yang memiliki pendekatan yang berorientas pada perubahan perilaku menyimpang dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar. Perilaku manusia termasuk perilaku yang menyimpang terbentuk karena belajar dan perilaku itu dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar. Belajar yang dimaksud disini adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.

Teoritisi belajar berpendapat, tingkah laku yang tidak tepat dapat diterangkan dengan prinsip yang sama dengan pola tingkah laku yang tidak tepat, karena pada dasarnya semua tingkah laku adalah usaha individu untuk memodifikasi situasi sehingga dapat memberikan kepuasan setiggi-tingginya.

Semua tingkah laku dibentuk melalui proses belajar, tetapi tidak peduli hasilnya nanti adaptif dan maladaptif. Individu memantapkan pola tingkah lakunya karena dapat memperoleh kepuasan-kepuasan. Ini yang akan menjadi salah satu kunci proses konseling behavioral, yakni kemampuan konselor membantu klien menentukan kepuasan bagaimana yang bakal diperolehnya dari suatu tingkah laku.

Berdasarkan uraian diatas, dapat di simpulkan bahwa tingkah laku yang tidak dapat diperoleh dan dikembangkan oleh seseorang karena ia belajar dengan salah, sehingga tingkah lakunya tidak tepat, kurang, dan berlebihan. Misalnya menyendiri, belajar hanya dengan waktu yang paling minimal, merokok berlebihan, pobia, tidur berlebihan, ngeluyur, tidsk ksruan dan sebagainya

Banyak tingkah laku yang menyimpang karena individu itu hanya mengambil sesuatu yang disenangi, dan menghindari yang tidak disenangi. Psikoterapi melatih klien untuk dapat bertingkah laku yang menurut pendapatnya tidak menyenangkan. Bila seorang klien datang pada seorang psikoterapis bahwa ia mengalami suatu kecemasan. Salah satu cara untuk menghindarkan kecemasan itu dengan memanipulasi stimulus sehingga menimbulkan respon yang mendatangkan suatu ganjaran, maka terapis itu menolong klien mengurangi kecemasan.

Hal ini terjadi karena stimulus yang tidak menyenangkan (menyakitkan) sehingga perilaku yang tidak dikehendaki (simtomatik) tersebut terhambat kemunculannya. Stimulus yang tidak menyenangkan disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

Perilaku bermasalah adalah perilaku individu yang negative dan / atau perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, perilaku yang tidak membawa kepuasaan bagi individu, atau perilaku yang menyebabkan konflik antara individu dengan lingkungannya. Perilaku bermasalah terjadi karena adanya salah suai dalam proses interaksi individu dengan lingkungannya. Perilaku bermasalah terjadi karena proses belajar, terbentuk oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.

Perilaku bermasalah juga dapat terbentuk karena modeling, perilaku mencontoh, baik berupa pengamatan langsung (imitasi), atau secara tidak langsung (vicarious). Teori belajar dengan mencontoh ini dapat dilakukan dengan modeling dan vicarious. Modeling merupakan proses belajar individu dengan menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan oleh orang lain sebagai model dengan melibatkan penambahan atau pengurangan tingkah laku yang diamati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus melibatkan proses kognitif. Vicarious classical conditioning merupakan modeling yang digabung dengan conditioning classic. Modeling ini digunakan untuk mempelajari respon emosional. Proses vicarious classical conditioning ini dapat dilihat dari kemunculan respon emosional yang sama dalam diri seseorang dan respon tersebut ditujukan ke obyek yang ada didekatnya saat dia mengamati model ituAnak yang sering dihukum fisik, ditampar, dipukul, menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar, maka anak akan belajar dan mencontoh perilaku agresif tersebut. Perilaku bermasalah dapat juga terjadi karena mencontoh adegan-adengan dalam games, TV, atau film.

Perilaku bermasalah ini akan tetap atau berubah tergantung pada konsekuensi-konsekuensi yang menyertai perilaku tersebut dalam lingkungan dimana individu berada. Seorang anak yang membuat gaduh di kelas, akan terus berulah jika lingkungan, guru dan teman sekelas, melakukan pembiaran, pujian atau bahkan dukungan (reinforcement), sebaliknya jika lingkungan memberikan punishment (hukuman) maka perilaku tersebut akan berhenti. Perubahan perilaku terjadi jika punishment dan reinforcement diberikan dengan tepat. Punishment yang diberikan menjadi tidak efektif jika tidak mampu meredam kekuatan reinforcement.

Perilaku bermasalah adalah perilaku individu yang negative dan / atau perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, perilaku yang tidak membawa kepuasaan bagi individu, atau perilaku yang menyebabkan konflik antara individu dengan lingkungannya.

Perilaku bermasalah terjadi karena adanya salah suai dalam proses interaksi individu dengan lingkungannya. Perilaku bermasalah terjadi karena proses belajar, terbentuk oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya. Perilaku akan terbentuk dan dipertahankan jika diberi ganjaran. Sebaliknya perilaku akan berkurang dan hilang jika diberi hukuman.

Secara general menurut Skinner bahwa pribadi manusia dapat mempengaruhi tingkah lakunya melalui manipulasi lingkungan. Asumsi yang mendasari pendekatan behavioral ini adalah bahwa karena individu yang terganggu oleh berbagai masalah spesifik maka dibutuhkan banyak strategi untuk menghasilkan perubahan

Konseling behavioral berasusmsi bahwa perilaku yang salah akibat dari pembelajaran dan pendidikan yang salah, baik sebagai akibat dari pengaruh lingkungan maupun aspek sosial lainya. Sebagai contoh, ketika menangani anak yang senang minum-minuman keras, maka yang akan dilakukan adalah memberikan terapi yang realistis dengan permasalahan yang ada. Seperti memberikan tahap-tahap dalam mengatasi kecenderungan minuman keras, disamping itu dengan merubah kebiasaan yang dari klien.

Dari penjelasan mengenai asumsi perilaku bermasalah yang telah di jelaskan tersebut dapat disimpulkan bahwa

  1. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.
  2. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah.
  3. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.
  4. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belaj

  1. Tujuan Konseling

Tujuan  konseling behavioral  adalah membantu klien untuk mendapatkan tingkah laku baru. Dasar alasannya adalah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku maladaptive (salah usai). Jika tingkah laku neurotik learned, maka ia bisa unlearned (dihapus dari ingatan)Konseling behavioral pada hakikatnya terdiri atas proses penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif dan pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang didalamnya respon-respon yang layak yang belum dipelajari. (Corey, 2010 : 199)

Dari tujuan diatas dapat dibagi menjadi beberapa sub tujuan yang lebih konkrit yaitu:

  1. Membantu klien untuk menjadi asertif dan mengekspresikan pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat ke dalam situasi yang membangkitkan tingkah laku asertif (mempunyai ketegasan dalam bertingkah laku).
  2. Membantu klien menghapus ketakutan-ketakutan yang tidak realistis yang menghambat dirinya dari keterlibatan peristiwa-peristiwa sosial.
  3. Membantu untuk menyelesaikan konflik batin yang menghambat klien dari pembuatan pemutusan yang penting bagi hidupnya.

Adapun tujuan khusus dari konseling behavioral adalah membantu klien menolong diri sendiri, mengembalikan klien ke dalam masyarakat, meningkatkan keterampilan sosial, memperbaiki tingkah laku yang menyimpang, membantu klien mengembangkan sistem self management dan self control. (Sutarno, 2003 : 8) Sehingga tujuan dari konseling behavioral adalah membentuk perilaku baru yang adaptif melalui proses belajar dan lingkungan.

Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidakpuasan yang diperolehnya. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Adapun karakteristik konseling behavioral menurut Corey (1997) dan George dan Cristiani (1990) adalah :

  1. berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik
  2. Memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling
  3. Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien
  4. Penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling.

Berdasarkan karakteristik ini dapat dipahami bahwa tujuan dari terapi tingkah laku dalam konseling adalah :

  1. Mencapai kehidupan tanpa mengalami perilaku simtomatik, yaitu kehidupan tanpa mengalami kesulitan atau hambatan perilaku, yang dapat membuat ketidakpuasan dalam jangka panjang dan/atau mengalami konflik dengan kehidupan sosial.
  2. Mengubah perilaku salah dalam penyesuaian dengan cara-cara memperkuat perilaku yang diharapkan, dan meniadakan perilaku yang tidak diharapkan serta membantu menemukan cara-cara berperilaku yang tepat.

Ada tiga fungsi tujuan konseling behavioral, yaitu : (1) sebagai refleksi masalah klien dan dengan demikian sebagai arah bagi proses konseling,  (2) sebagai dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling, dan (3) sebagai kerangka untuk menilai konseling.

Secara operasional tujuan konseling behavioral dirumuskan dalam bentuk dan istilah-istilah yang khusus, melalui : (1) definisi masalah, (2) sejarah perkembangan klien, untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya, kekuatan dan kelemahannya, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya, (3) merumuskan tujuan-tujuan khusus, (4) menentukan metode untuk mencapai perubahan tingkah laku.

Sedangkan tujuan konseling menurut Krumboltz harus memperhatikan criteria berikut : (1) tujuan harus diinginkan oleh klien , (2) konselor harus berkeinginan untuk membantu klien mencapai tujuan dan (3) tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dinilai pencapaiannya oleh klien .

Tujuan konseling dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu (1) memperbaiki perilaku salah sesui, (2) belajar tentang proses pembuatan keputusan, dan (3) Pencegahan timbulnya masalah-masalah.

Adapun tujuan dari pembahasan tentang teknik konseling behavioral ini adalah :

  • Untuk mengetahui sejarah, konsep, dan teknik pelaksanaan konseling behavioral dengan baik dan benar.
  • Memahami metode dan ciri khas yang terdapat dalam pelaksanaan konsep teori behavioral dalam format konseling kelompok.
  • Menjelaskan kajian-kajian dan peranan konselor dan konseli dalam proses konseling kelompok behavioral.

Menurut Corey (1986, 178) ada tiga tujuan dalam konseling behavioral yaitu (1) sebagai refleksi masalah klien dan dengan demi dan sebagai arah bagi konseling , (2) sebagai dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling , dan (3) sebagai kerangka untuk menilai hasil konseling. Urutan pemilihan dan penetapan tujuan yang digambarkan oleh Cormier and Cormier (Corey, 1986,178) sebagai salah satu bentuk kerja sama antara konselor dengan klien , adalah sebagi berikut :

  1. Konselor menjelaskan hakekat dan maksud dari tujuan .
  2. Klien mengkhususkan perubahan –perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling
  3. Klien dan konselor menetapkan tujuan yang telah ditetapkan apakah merupakan perubahan yang dimiliki oleh klien .
  4. Bersama-sama menjajagi apakah tujuan-tujuan itu
  5. Mereka mendiskusikan kemungkinan manfaat –manfaat tujuan .
  6. Mereka mendiskusikan kemungkinan kerugian-kerugian tujuan.
  7. Atas dasar informasi yang diperoleh tentang tujuan klien, konselor dan klien membuat salah satu keputusan berikut untuk melanjutkan konseling atau mempertimbangkan kembali tujuan akan mencari referal.

Mereka mendiskusikan kemungkinan kerugian-kerugian tujuan atas dasar informasi yang diperoleh tentang tujuan klien ,konselor dan klien membuat salah satu keputusan berikut: untuk melanjutkan konseling ,atau mempertimbangkan kembali tujuan akan mencari referral,

Bila pemilihan tujuan di atas dapat diselesaikan, maka proses penentuan tujuan dimiliki. Proses ini mencakup usaha bersama dimana konselor dan klien membahas tingkah laku yang dihubungkan dengan tujuan-tujuan tersebut, kondisi-kondisi perubahan, tingkat perubahan tingkah laku, hakikat sub-sub tujuan dan rencana tindakan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Setelah tujuan ditetapkan dan ditentukan, tugas terapis adalah untuk memilih strategi terapeutik yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dalam poin itulah klien dan terapis melakukan kesepakatan terapeutik. Gotman dan Laiblum (1973) menyatakan bahwa kesepakatan/persetujuan tertulis dan ditandatangani dapat digunakan untuk menegaskan kesepakatan tujuan dan aturan-aturan prosedural treatment. Dalam pandangan mereka, ada implikasi penting dari memiliki kesepakatan seperti :

  • Kesepakatan terapeutik meningkatkan kesepalatan-kesepakatan membuat konselor/klien alliance operational.
  • Kesepakatan terapeutik menekankan pada klien pentingnya partisipasi aktif dalam proses terapeutik dan bukan membantu perkembangan sikap spektator pasif.
  • Kesepakatan terapeutik adalah hubungan dasar antara prosedur-prosedur atau teknik-teknik yang digunakan dengan tujuan kongkrit klien.

Tujuan konseling behavioral berorientasi pada pengubahan atau modifikasi perilaku konseli, yang di antaranya :

  1. Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar
  2. Penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif
  3. Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari
  4. Membantu konseli membuang respon-respon yang lama yang merusak diri atau maladaptif dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat dan sesuai (adjustive).
  5. Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptive, memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan.
  6. Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan bersama antara konseli dan konselor.
  7. Peran Konseling Behavioral

                        Menurut Corey (2003: 205) menyatakan bahwa terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yaitu terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah manusia, para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, ahli dalam mendiagnosis tingkahlaku yang maladatif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive.

Hakikatnya  fungsi dan peranan  konselor  terhadap  konseli  dalam  teori  behavioral  ini adalah  :

  1. Mengaplikasikan  prinsip  dari  mempelajari  manusia  untuk  memberi fasilitas  pada  penggantian  perilaku  maladaptif  dengan  perilaku  yang  lebih adaptif.
  2. Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan  seseorang dari  perilaku yang  mengganggu  kehidupan  yang efektif sesuai dengan nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar sasaran yang dikehendaki  sepanjang sasaran itu  sesuai  dengan  kebaikan masyarakat secara umum.

            Perubahan dalam perilaku itu harus di usahakan melalui suatu proses belajar atau belajar kembali, yang berlangsung selama proses konseling. Oleh karena itu ,proses konseling di pandang sebagai suatu proses pendidikan yang berpusat pada usaha membantu dan kesediaan di bantu untuk belajar perilaku baru dan dengan demikian mengatasi berbagai macam permasalah. Perhatian di fokuskan pada perilaku-perilaku tertentu yang dapat di amati ,yang selam aproses konseling melalui berbagai prosedur dan aneka teknik tertentu akhirnya menghasilkan perubahan yang nyata, yang juga dapat di saksikan dengan jelas. Semua usaha untuk mendatangkan perubahan dalam tingkah laku di dasar kanpadateori belajar yang di kenal dengan nama Behaviorism dan sudah di kembangkan sebelum lahirnya aliran Behavioral dalam konseling. Konselor behavioral memiliki peran yang sangat penting dalam membantu konseling. Wol pemengemukakan peran yang harus di lakukan konselor, yaitu bersikap menerima, mencoba memahami konseli dan apa yang di kemukakantan pamenilai atau mengkritiknya. Dalam hal menciptakan iklim yang baik adalah sangat penting untuk mempermudah melakukan modifikasi perilaku. Konselor lebih berperan sebagai guru yang membantu konseli melakukan teknik-teknik modifikasi perilaku yang sesuai dengan masalah, tujuan yang hendak dicapai

            Terapi behavior memiliki prosedur kerja yang jelas, sehingga konselor dan konseli memiliki peran yang jelas. Ini berarti untuk mencapai tujuan terapi sangat dibutuhkan kerjasama yang baik antara konselor dan konseli. Adapun sikap, peran dan tugas konseli dalam proses terapi ialah meliputi :

  • Memiliki motivasi untuk berubah
  • Kesadaran dan partisipasi konseli dalam proses terapi, baik selama sesi terapi maupun dalam kehidupan sehari-hari
  • Klien terlibat dalam latihan perilaku baru dan umumnya menerima pekerjaan rumah yang aktif (seperti self-monitoring perilaku bermasalah) untuk menyelesaikan antara sesi terapi.
  • Terus menerapkan perilaku baru setelah pengobatan resmi telah berakhir.
  • Peran Konselor

            Pada umumnya konselor yang mempunyai orientasi behavioral bersikap aktif dalam proses konseling. Konseli belajar menghilangkan atau belajar kembali bertingkah laku tertentu. Dalam proses ini, konselor berfungsi sebagai konsultan, guru, pemberi dukungan dan fasilitator. Ia bisa juga memberi instruksi atau mensupervisi orang-orang pendukung yang ada di lingkungan konseli yang membantu dalam proses perubahan tersebut. Konselor behavioral yang efektif beroperasi dengan perspektif yang luas dan terlibat dengan konseli dalam setiap fase konseling (Gladding, 2004).

            Sikap yang dimiliki oleh konselor behavior ialah menerima, dan mencoba memahami apa yang dikemukakan konseli tanpa menilai atau mengkritiknya. Dalam proses terapi, konselor berperan sebagai guru atau mentor. Tugas utama terapis adalah untuk melakukan tindak lanjut penilaian untuk melihat apakah perubahan yang tahan lama dari waktu ke waktu

            Fungsi dan tugas konselor juga dijelaskan untuk mengaplikasikan  prinsip  dari  mempelajari manusia untuk memberi fasilitas pada penggantian perilaku maladaptif  dengan perilaku yang lebih adaptif. Kemudian menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan  seseorang dari  perilaku yang  mengganggu  kehidupan  yang efektif sesuai dengan nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar sasaran yang dikehendaki  sepanjang sasaran itu  sesuai  dengan  kebaikan masyarakat secara umum.

            Lebih rincinya peranan seorang konselor dalam proses konseling kelompok ini, antara lain adalah :

  1. Konselor berperan sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang ditunjukan oleh konseli.
  2. Konselor harus menerima dan memahami konseli tanpa mengadili atau mengkritik.
  3. Konselor juga harus dapat membuat suasana yang hangat, empatik dan memberikan kebebasan bagi konseli untuk mengekspresikan diri.
  4. Memberikan informasi dan menjelaskan proses yang dibutuhkan anggota untuk melakukan perubahan.
  5. Konselor harus memberikan reinforcement.
  6. Mendorong konseli untuk mentransfer tingkah lakunya dalam kehidupan nyata.
  • Peran Konseli

            Keberadaan konseli dalam konseling kelompok khususnya behavioral tidak harus berasal dari konseli yang mempunyai permasalahan yang sama. Setiap anggota kelompok diberikan kesempatan untuk menanggapi persoalan yang sedang dihadapi oleh salah seorang anggota kelompok. Di sini, ada semacam sharing pendapat di antara teman sebaya dalam memecahkan sebuah persoalan.

            Terapi behavior memiliki prosedur kerja yang jelas, sehingga konselor dan konseli memiliki peran yang jelas. Ini berarti untuk mencapai tujuan terapi sangat dibutuhkan kerjasama yang baik antara konselor dan konseli. Adapun sikap, peran dan tugas konseli dalam proses terapi ialah meliputi :

  • Memiliki motivasi untuk berubah
  • Kesadaran dan partisipasi konseli dalam proses terapi, baik selama sesi terapi maupun dalam kehidupan sehari-hari
  • Klien terlibat dalam latihan perilaku baru dan umumnya menerima pekerjaan rumah yang aktif (seperti self-monitoring perilaku bermasalah) untuk menyelesaikan antara sesi terapi.
  • Terus menerapkan perilaku baru setelah pengobatan resmi telah berakhir.

            Adapun peranan atau hak seorang konseli dalam proses konseling kelompok behavioral, antara lain adalah :

  1. Setiap anggota mengemukakan masalahnya secara khusus, meneliti variabel eksternal dan internal yang mungkin menstimulasi dan menguatkan perilakunya dan lebih lanjut membuat pernyataan perilaku baru yang diharapkan.
  2. Konseli dituntut memiliki kesadaran dan berpartisipasi dalam terapeutik.
  3. Konseli berani menanggung resiko atas perubahan yang ingin dicapai.

Dalam kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan masalah-masalah konseli sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru. Sistem dan prosedur konseling behavioral sangat terdefinisikan, juga demikian pula peranan yang jelas dari konselor dan konseli.

Konseli harus mampu berpartisipasi dalam kegiatan konseling, ia harus memiliki motivasi untuk berubah, harus bersedia bekerjasama dalam melakukan aktivitas konseling, baik ketika berlangsung konseling maupun diluar konseling.Dalam hubungan konselor dengan konseli ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu :

  • Konselor memahami dan menerima konseli.
  • Antara konselor dan konseli saling bekerjasama dalam satu kelompok.
  • Konselor memberikan bantuan dalam arah yang diinginkan konseli.

  1. Teknik Konseling Behavioral

            Teknik-teknik konseling yang bisa dan biasa digunakan dalam Konseling behavioral adalah :

  1. Latihan Asertif (Assertive training)

            Latihan asertif merupakan latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang menimbulkan kecemasan. Klien yang menunjukkan rasa cemas, diberi tahu bahwa dirinya mempunyai hak untuk mempertahankan diri.Ia silatih untuk memelihara harga dirinya dengan berulang kali diberi latihan mempertahankan diri. Lathian seperti ini memungkinkan klien dapat mengendalikan lingkungannya. Apabila rangsangan dari lingkungan tersebut terlalu kuat sehingga berat untuk mengendalikannya dapat dilakukan dengan desensitisasi.

Menurut Corey, (2011:213) latihan asertif akan membantu bagi orang-orang yang (1) tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, (2) menunjukkan kesopanan berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya (3) memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak” (4) mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respons-repons positif lainnya (5) merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.

Latihan asertif menggunakan prosedur-prosedur permainan peran. Suatu masalah yang khas yang bisa dikemukakan sebagai contoh adalah kesulitan klien dalam menghadapi atasannya di kantor. Terapi kelompok latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada kelompok dengan sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal.Fokusnya adalah memprakterkan melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh sehinggal individu-individu diharapkan mampu mengatasi ketakmemadainya dan belajar bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih luas dan terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang terbuka. (Corey, 2010: 215)

Sehingga dapat disimpulkan untuk latihan asertif ini lebih membentuk tingkah laku baru dalam menghadapi hubungan dengan orang lain dan menghapus tingkah laku yang lama yang memuat klien merasa cemas.

Contohnya, seorang siswa yang takut kalau dimarahi gurunya, pertama-tama klien memainkan peran sebagai gurunya dan konselor sebagai siswanya, lalu konselor meniru cara siswa dalam berpikir dan cara menghadapi gurunya. Lalu antara keduanya saling bertukar peran, konselor sebagai gurunya dengan arahan klien untuk menunjukkan peran guru secara realistis, sambil konselor melatih dan mengarahkan klien dalam menghadapi gurunya. Maka secara perlahan akan terbentuk tingkah laku baru pada diri klien.

  1. Desensitisasi sistematis

            Desensititasi berarti menenangkan ketegangan klien dengan jalan mengajri/melatih klien untuk santai/rileks. Desensititasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks

            Latihan rileks ini bisa dilakukan dalam lima atau enam sesi. Apabila klien telah mampu melakukan rileks, klien dibantu untuk menyusun urutan stimulus yang mencemaskan.Dalam hal ini, klien diminta secara bertahap membayangkan stimulus mulai dari yang paling kurang menemaskan hingga yang paling mencemaskan; klien dilatih untuk tetap rileks disaat mengahadapi stimulus yang mencemaskan itu. Demikian seterusnya hingga ia dapat membayangkan stimulus itu tanpa adanya kecemasan lagi. Jadi, dengan teknik ini dimaksudkan agar klien dapat mengganti perasaan cemas terhadap stimulus tertentu dengan perasaan rileks terhadap stimulus tertentu.

            Menurut Gerald Corey dalam bukunya Konseling dan Psikoterapi hlm 210 bahwa Desentisisasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia, tetapi keliru apabila menganggap teknik ini hanya bisa diterapkan pada penanganan ketakutan-ketakutan. Desentisisasi sistematik bisa diterapkan secara efektif pada berbagai situasi penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi.

            Sehingga dapat disimpulkan teknik desentisisasi sistemik ini lebih membantu klien dalam terapi penyembuhan kecemasan dalam diri klien yang lebih disebabkan oleh fobia-fobia maupun ketakutan klien dengan mengajak klien untuk rileks membayangkan hal-hal yang membuat takut dari hal yang paling mengerikan sampai hal yang kurang mengerikan.

            Contohnya, klien fobia dengan balon, selalu ketakutan kalau melihat balon, lalu klien diajak rileks membayangkan bentuk balon, kecemasan ditingkatkan yaitu dengan klien diajak melihat balon dari kejauhan, ditingkatkan lagi dengan mengajak klien memegang balon disini kecemasan klien meningkat tajam sampai akhirnya klien diajak untuk meletuskan balon disini tingkat kecemasan klien sampai pada puncaknya dengan memberikan klien stimulus yang berupa motivasi, musik atau air minum.

  1. Pengkondisian Aversi

Teknik ini digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk, dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengganti respons pada stimulus yang disenangi dengan kebalikan respons terhadap stimulus tersebut, dibarengi stimulus yang merugikan atau tidak mengenakan dirinya.

Hal ini dilakukan dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan (menyakitkan) sehingga perilaku yang tidak dikehendaki tersebut terhambat kemunculannya. Stimulus yang tidak menyenangkan disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

Contoh, untuk menyembuhkan pria homoseks. Kepada pria homoseks diperlihatkan foto pria telanjang sambil mengalitkan setrum listrik pada kakinya yang tidak beralas.Dalam terapi ini, setiap kali kepada klien diperlihatkan stimulus yang disenangi (foto pria telanjang) diikuti dengan rasa sakit akibat di setrum listrik.Begitu terus setiap melihat foto pria telanjang selalu dibarengi rasa sakit dan lama kelamaan tidak tertarik lagi pada pria.

Teknik- teknik pengkondisian aversi, yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral spesifik, melibatkan pengasosian tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculan.Stimulus-situmulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramua yang membuat mual.Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman.

Contoh pelaksanaan penarikan pemerkuat positif adalah mengabaikan ledakan kemarahan anak guna menghapus kebiasaan mengungkapkan ledakan kemarahan pada si anak.Jika perkuatan ditarik, tingkah laku yang tidak diharapkan cenderung berkurang frekuensinya.

Contoh penggunaan hukuman sebagai cara pengendalian adalah pemberian kejutan listrik kepada anak autistik ketika tingkah laku spesifik yang tidak diinginkan muncul. Butir yang penting adalah bahwa prosedur-prosedur aversif ialah menyajikan cara-cara menahan respons-respons maladaptif dalam suatu periode sehingga terdapat kesempatan untuk memperoleh tingkah laku alternatif yang adaptif dan yang akan terbukti memperkuat dirinya (Corey, 2010:216-217)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi aversif ini lebih membentuk tingkah laku baru yang lebih spesifik yang adaptif dari yang semula maladaptif, atau tingkah laku yang sesuai aturan.

  1. Pembentukan Tingkah laku Model

Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.

  1. Naskah dialog pelaksamaan konseling Behavioristik

Naskah Dialog Behavioristik

  • Tema : Phobia
  • Ritme Cerita
  1. Pemeran : Nurmadita Sari sebagai konselor

                                  Sofah Marwah sebagai konseli

           Ade Peni Afifah sebagai sutradara

           Enci Ranyu sebagai kameramen

             Nur Khomisah sebagai editor

  1. Permasalahan : Sofah marwah memiliki phobia terhadap ulat                                     yang berlebihan
  2. Latar             : Tempat : Universitas Pancasakti Tegal

           Waktu   : Siang jam 11.00 WIB

  1. Attending

Konseli            : (Mengetuk pintu), “Assalamu’alaikum Wr. Wb.” Berjabat                             tangan dengan konselor.

Konselor          : Wa’alaikum Salam, menghampiri klien dan mempersilahkan

                                       duduk.

  1. Opening

            Konseli            : (Duduk di kursi yang telah dipersiapkan) maaf bu, siang-iang                                  gini sudah mengganggu.

            Konselor          : Oh…, tidak apa-apa mb sofah, oya bagaimana kabarnya mb ?                                    (senyum dan mulai percakapan).

            Konseli            :” Alhamdulillah baik bu”.

            Konselor          : Syukurlah kalau begitu, bagamana dengan kuliahnya?

            Konseli            : Alhamdulillah lancar bu,

            Konselor          : Oya, ada yang bisa ibu bantu.

  1. Acceptance

            Konseli            :Hmm… gini bu, saya itu pobia dengan ulat, dan pobia                                             itu sangat mengganggu saya.

            Konselor          : Iya…ibu dapat memahami perasaan mb sofah (sambil                                               mengangguhkan kepala).

            Konseli            : Iya bu, bagaimana tidak mengganggu, saya terkadang di                                          bully oleh teman- teman saya, itu membuat saya ketakutan                                   bu.

            Konselor          : Konselor mengangguk kepala dan memandangi konseli)                                         hmm…iya..iya..

  1. Restatement

Konseli            :Saya benar-benar merasa takut terhadap ulat bu. Yang hal              tersebut membuat saya sering dibully.

            Konselor          : Mba sofah merasa takut.

  1. Reflection of feeling

Konseli            : Bu.. saya sudah berusaha mencoba agar tidak takut terhadap                                  ulat tapi tetap saja.

            Konselor          : Sepertinya anda merasa kecewa terhadap usaha anda.

  1. Clarification

Konseli            : Dulu saya pernah kejatuhan ulat di pundaknya, muka ulat                                        tersebut menghadap ke muka.hal tersebut membuat saya                                               takut dan trauma hingga sekarang.

            Konselor          : Dengan kata lain, anda takut karena pernah kejatuhan ulat.

  1. Paraphrashing

Konseli            : Hal ini membuat saya merasa takut dan trauma yang                                                 berkepanjangan.

            Konselor          : “Tampaknya anda merasa tertekan”

  1. Structuring

            Konseli            : Saya sulit sekali menyesuaikan diri dengan teman-teman                                          yang membully saya.

            Konselor          : Anda kemari untuk membahas masalah anda dengan saya.                                      Marilah kita manfaatkan waktu 45 menit itu dengan sebaik-                          baiknya, saya tidak dapat memberikan nasihat sebagaimana                               yang anda minta. tetapi, marilah kita bicarakan masalah ini                                       bersama.

            Konseli            : Bu. Saya sulit sekali untuk menghilangkan pobia ini, karena                                     pobia ini saya sering di bully oleh teman-teman, jadinya saya                             terganggu.

            Konselor          : Dalam masalah yang anda kemukakan tadi setidaknya ada 3                                   masalah yaitu pobia, di bully teman, dan terganggu.

            Konseli            : Bu, bagaimana cara penanganannya agar pobia ini sembuh?

            Konselor          : Coba anda tenangkan dulu, tarik nafas dan relaksasikan                                            pikiran anda.

            Konseli            : (Diam) saya bingung bu harus bagaimana lagi.

Teknik Konseling Thought Stopping

            Konselor          : Coba anda tutup mata, bayangkan di depan anda ada sebuah                                 ulat. Kemudian katakan dalam hati “Saya tidak takut ulat”                                  berkali-kali (beberapa menit).

            Konseli            : “(Diam dan membayangkan)”.

            Konselor          : Bagaimana perasaanmu? Apakah lebih baik?

            Konseli            : Saya masih merasa takut bu.

            Konselor          :Kalau begitu, ini ada sebuah gambar. Coba anda lihat gambar                                  ini (sambil menunjukkan gambar ulat yang sebelumnya sudah                             di browsing).

            Konseli            : (Histeris)

            Konselor          : (mencoba menenangkan klien)

            Konseli            : (mulai tenang)

            Konselor          : Bagaimana mba sofah apakah ingin berhenti sampai sini saja                                    atau di lanjut dilain hari?

            Konseli            : Saya rasa cukup untuk hari ini dan diganti dilain hari saja                             bagaimana bu?

            Konselor          : Iya saya bisa.

  • Hari kedua

            Konseli            : (Mengetuk pintu), “Assalamu’alaikum Wr. Wb.” Berjabat                           tangan dengan konselor.

            Konselor          : Wa’alaikum Salam, menghampiri klien dan mempersilahkan                                    duduk.

            Konseli            : (Duduk di kursi yang telah dipersiapkan) maaf bu, siang-                                         siang gini sudah mengganggu.

            Konselor          : Bagaimana mba sudah siap untuk melanjutkan konseling?

            Konseli            : Ya saya sudah siap bu

            Konselor          : Disini saya akan menunjukan gambar ulat kembali, apakah                                       anda sudah siap?

            Konseli            : Iya bu saya sudah siap

            Konselor          : (menunjukan gambar ulat kepada konseli)

            Konseli            : (histeris yang sudah mulai berkurang)

            Konselor          : coba anda pegang foto ulat ini.

            Konseli            : (sudah berani memegang gambar ulat)

            Konselor          : Anda untuk saat ini sudah ada perubahan.

                                     Saya memiliki mainan ulat, apakah anda berani untuk                                               memegangnya?

            Konseli            : (ekspresi ragu) baik saya akan mencoba bu

            Konselor          : Baik saya akan mengambil mainan ulat dulu

            Konseli            : Silahkan bu

            Konselor          : (menyodorkan mainan ulat kepada konseli) coba anda sentuh                                  ulat ini

            Konseli            : (agak ragu sambil menyentuh ulat secara perlahan-lahan)

            Konselor          : Coba anda tenang dulu (sambil mengelus pundak klien).

                                    Coba sekali lagi anda coba untuk memegang ini

            Konseli            : Baiklah Bu… (sambil memegang ulat dan berkurang                                                 histerisnya)

            Konselor          : sejauh ini anda sudah ada perubahan mengenai phobianya                                         dari melihat ulat sampai memegang ulat

            Konseli            : Terima kasih bu sudah membuat saya untuk menghilangkan                                      phobia ulat

            Konselor          : Iya sama-sama bu. Jangan sungkan-sungkan lagi ketika                                           meminta bantuan lagi.

            Konseli            : (bersalaman dengan konselor dan meninggalkan ruang.

BAB III

PENUTUP

 

  1. Saran

Demikianlah makalah yang sederhana yang telah tersusun jika masih ada banyak kekurangan di sana sini. Oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini.

  1. Simpulan

       Sejarah konseling behavioral bermula pada Ivan Sechenov (1829-1905), bapak psikologi Rusia. Struktur hipotetiknya, dikembangkan sekitar 1863.

         Konseling Behavioral pada mulanya disebut dengan Terapi Perilaku yang berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan Skinnerian dari B.F. Skinner. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1958) untuk menanggulangi (treatment) neurosis. Tujuan terapi adalah untuk memodifikasi koneksi-koneksi dan metode-metode Stimulus-Respon (S-R) sedapat mungkin.

       Konseling behavioral dikenal juga dengan modifikasi perilaku yang dapat diartikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk mengubah perilaku

       Dalam konsep behavioral, perilaku merupakan hasil belajar, sehinga dapat diubah dengan manupulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu memngubah perilakunya agar dapat memecahkan masalah.

       Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah.

       Adapun tujuan khusus dari konseling behavioral adalah membantu klien menolong diri sendiri, mengembalikan klien ke dalam masyarakat, meningkatkan keterampilan sosial, memperbaiki tingkah laku yang menyimpang, membantu klien mengembangkan sistem self management dan self control. Sehingga tujuan dari konseling behavioral adalah membentuk perilaku baru yang adaptif melalui proses belajar dan lingkungan.

       Menurut Corey (2003: 205) menyatakan bahwa terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yaitu terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah manusia, para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, ahli dalam mendiagnosis tingkahlaku yang maladatif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive.

       Teknik-teknik konseling yang bisa dan biasa digunakan dalam Konseling behavioral adalah :

  1. Latihan Asertif (Assertive training)
  2. Desensitisasi sistematis
  3. Pengkondisian Aversi
  4. Pembentukan Tingkah laku Model

 

 

Manfaat membaca Buku

Standar

belajar-sabah

Manfaat membaca buku,,apa itu?

Membaca adalah satu aktivitas yang memiliki segudang manfaat. Sedikitnya ada 8 manfaat yang dapat saya uraikan.

1. Melatih kemampuan berpikir
Otak ibarat sebuah pedang, semakin diasah akan semakin tajam. Kebalikannya jika tidak diasah, juga akan tumpul.
Apakah alat yang efektif untuk mengasah otak?
jawabannya adalah membaca. Menurut Astri Novia (2010) pilihlah satu jenis buku yang Anda sukai, apakah literature klasik, fiksi ilmiah, atau buku pengembangan diri. Dengan cara ini otak akan bertambah kuat. Bacalah buku sebanyak mungkin. Menurut para ahli, keuntungan dari membaca buku dapat memberikan dampak yang menyenangkan bagi otak kita. Membaca juga membantu meningkatkan keahlian kognitif dan meningkatkan perbendaharaan kosakata.

2. Meningkatkan Pemahaman
Contoh nyata dari manfaat ini banyak dirasakan oleh siswa maupun mahasiswa. Di mana membaca dapat meningkatkan pemahaman dan memori, yang semula tidak mereka mengerti menjadi lebih jelas setalah membaca. Logika sederhana saja, tidak mungkin siswa atau mahasiswa memahami materi pelajaran/kuliah kalau mereka tidak membaca. Dari sini jelas bahwa membaca sangat berperan dalam membantu seseorang untuk meningkatkan pemahamannya terhadap suatu bahan/materi yang dipelajari.

3. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan
Manfaat yang satu ini mungkin sudah sering kita dengar semenjak kita masih kecil. Kita pasti ingat berapa kali guru-guru kita mengingatkan bahwa membaca adalah satu sarana untuk membuka cakrawala dunia. Dengan memiliki banyak wawasan dan ilmu pengetahuan, kita akan lebih percaya diri dalam menatap dunia. Mampu menyesuaikan diri dalam berbagai pergaulan dan tetap bisa servive dalam menghadapi gejolak zaman.

4. Mengasah kemampuan menulis
Selain menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, memebaca juga bisa mengasah kemampuan menulis Anda. Selain karena wawasan Anda untuk bahan menulis semakin luas, Anda juga bisa mempelajari gaya-gaya menulis orang lain dengan membaca tulisannya. Lewat membaca Anda bisa mendapatkan kekayaan ide yang melimpah untuk menulis.

5. Mendukung kemampuan berbicara di depan umum
Membaca adalah aktivitas yang akan membuka cakrawala dan pengatahuan anda terhadap dunia. Terbatasnya jangkauan diri kita terhadap peristiwa-peristiwa di dunia, hanya bisa dijangkau dengan membaca. Selain mendapatkan informasi tentang berbagai peristiwa, membaca juga mampu meningkatkan pola pikir, kreativitas dan kemampuan verbal, karena membaca akan memperkaya kosa kata dan kekuatan kata-kata. Meningkatnya pola pikir, kreativitas dan kemampuan verbal akan sangat mendukung dalam meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum.

6. Meningkatkan Konsentrasi
Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan.

7. Menjauhkan risiko penyakit Alzheimer
Membaca benar-benar dapat langsung meningkatkan daya ikat otak. Ketika membaca, otak akan dirangsang dan stimulasi (rangsangan) secara teratur dapat membantu mencegah gangguan pada otak termasuk penyakit Alzheimer. Penelitian telah menunjukkan bahwa latihan otak seperti membaca buku atau majalah, bermain teka-teki silang, Sudoku, dan lain-lain dapat menunda atau mencegah kehilangan memori. Menurut para peneliti, kegiatan ini merangsang sel-sel otak dapat terhubung dan tumbuh.

8. Sarana Refleksi dan Pengembangan Diri
Kita dapat mengetahui pemikiran seorang pengusaha atau seorang trainer tanpa kita harus menjadi pengusaha atau trainer. Artinya kita bisa mempelajari bagaimana cara orang lain dalam mengembangkan diri. Ini penting bagi kita sebagai bahan pertimbangan atau pembanding sebelum kita melakukan suatu hal

Peta Kognitif

Standar

Peta Kognitif “pendekatan konseling gestalt”

NO ASPEK KETERANGAN
1 Nama tokoh Frederick Perls
2 konsep dasar
Psikoterapi Gestalt menitik beratkan pada semua yang timbul pada saat ini. Pendekatan ini tidak memperhatikan masa lampau dan juga tidak memperhatikan yang akan datang. Jadi pendekatan Gestalt lebih menekankan pada proses yang ada selama terapi berlangsung.Dalam buku Geralt Corey menekankan konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tanggung jawab pribadi, urusan yang tak terselesaikan, penghindaran, dan menyadari saat sekarang.

Bagi Perls, tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. Karena masa lalu telah pergi dan masa depan belum terjadi, maka saat sekaranglah yang terpenting. Guna membantu klien untk membuat kontak dengan saat sekarang, terapis lebih suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan ”apa” dan “bagaimana” ketimbang “mengapa”, karena pertanyaan mengapa dapat mengarah pada pemikiran yang tak berkesudahan tentang masa lampau yang hanya akan membangkitkan penolakan terhadap saat sekarang.

Konsep dasar pendekatan Gestalt adalah Kesadaran, dan sasaran utama Gestalt adalah pencapaian kesadaran. Menurut buku M.A Subandi (psikoterapi, hal. 96) kesadaran meliputi:

a.       Kesadaran akan efektif apabila didasarkan pada dan disemangati oleh kebutuhan yang ada saat ini yang dirasakan oleh individu

b.      Kesadaran tidak komplit tanpa pengertian langsung tentang kenyataan suatu situasi dan bagaimana seseorang berada di dalam situasi tersebut.

c.       Kesadaran itu selalu ada di sini-dan-saat ini. Kesadaran adalah hasil penginderaan, bukan sesuatu yang mustahil terjadi.

Dalam buku Geralt Corey (1995), dalam terapi Gestalt terdapat juga konsep tentang urusan yang tak terselesaikan, yaitu mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, sakit hati, kecemasan rasa diabaikan dan sebagainya. Meskipun tidak bisa diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan dan fantasi tertentu.

3 Hakikat manusia ·  Manusia merupakan keseluruhan yang terdiri dari badan,emosi, pikiran, sensasi dan persepsi yang semuanya mempunyai fungsi dan saling berhubungan.·       Manusia Merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu

·       Manusia adalah proaktif daripada reaktif. Ia menentukan responnya terhadap stimulus yang dari lingkungannya.

·       Manusia Berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan pemikirannya

·       Manusia melalui kesadaran Dapat memilih dan bertanggung jawab terhadap tindakan perilakunya.

·       Manusia mempunyai perlengkapan dan sumber – sumber untuk kehidupannya secara efektif dan untuk mengembangkan diri melalui kemampuan yang dimilikinya sendiri.Manusia hanya dapat mengalami sendiri dalam masa sekarang. Masa lalu dan masa yang akan dating hanya dapat dialami dengan melalui mengingat – ngingat.

4 Hakikat konseling Dalam buku yang di baca penulis (M. A Subandi dalam bukunya Psikoterapi dan Menurut Gerald Corey dalam bukunya Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi) dapat di simpulkan bahwa focus utama konseling adalah bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya.Tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya dan mau mencoba menghadapinya, klien bisa diajak untuk memilih dua alternative, menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Selain itu konselor diharapkan menghindari diri dari pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi, maupun memberi nasihat.
5 Tujuan konseling a.    Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas.b.    Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya

c.    Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself)

d.    Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik.

6 Karakteristik konseling                Konseling bersifat aktif, konfrontatif, yang menekankan apa dan bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Konselor tidak membuat penafsiran terhadap tingkah laku klien tetapi mengembangkan cara-cara membuat penafsiran sendiri. Klien mengenal dan menemukan urusan yang tidak terselesaikan yang menghambat fungsi dirinya sekarang.Melibatkan hubungan pribadi dengan pribadi. Konselor menghindarkan diri dari keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi maupun berkhotbah. Konselor merupakan instrument bukan teknisi.
7 Peran dan fungsi konselor Ø Peran konselor1.        Memfokuskan pada perasaan klien, kesadaran pada saat yang sedang berjalan, serta hambatan terhadap kesadaran.

2.        Menantang klien sehingga mereka mau memanfaatkan indera mereka sepenuhnya dan berhubungan dengan pesan-pesan tubuh mereka.

3.        Menaruh perhatian pada bahasa tubuh klien, sebagai petunjuk non verbal.

4.        Secara halus berkonfrontasi dengan klien guna untuk menolong mereka menjadi sadar akan akibat dari bahasa mereka.

Ø Fungsi konselor

Konselor membantu klien untuk menganalisis dan memahami apa yang ada / terjadi sekarang ini dan bagaimana berbuat sekarang ini, konselor bukan hanya menanalisis saja, tetapi lebih ditekankan untuk mengintregasi perhatian dan kesadaran klien.

8 Hubungan konselor dengan konseli Hubungan antara konselor dan klien adalah sejajar yaitu hubungan antara klien dan konselor itu melibatkan dialog dan hubungan antara keduanya. Pengalaman – pengalaman kesadaran dan persepsi konselor merupakan inti dari proses konseling.
9 Asumsi tingkah laku bermasalah Asumsi Tingkah Laku BermasalahIndividu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan, menuntut, mengancam. Under dog adalah keadaan defensif, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif, ingin dimaklumi.

Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self).

  • Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis
  • Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya
  • Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang
  • Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi

Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi :

  • Kepribadian kaku (rigid)
  • Tidak mau bebas-bertanggung jawab, ingin tetap tergantung
  • Menolak berhubungan dengan lingkungan
  • Memeliharan unfinished bussiness
  • Menolak kebutuhan diri sendiri

Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih”.

10 Teknik-Teknik Konseling Teknik-teknik yang biasanya dipakai yaitu:a.    Permainan Dialog

Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogkan dua kecenderungan yang saling bertentangan yaitu, kecenderungan top dog (adil, menuntut, dan berlaku sebagai majikan) dan under dog (korban, bersikap tidak berdaya, membela diri, dan tak berkuasa).

b.    Teknik Pembalikan

Teori yang melandasi teknik pembalikan adalah teori bahwa klien terjun ke dalam suatu yang ditakutinya karena dianggap bisa menimbulkan kecemasan, dan menjalin hubungan dengan bagian-bagian diri yang telah ditekan atau diingkarinya.

c.    Bermain Proyeksi

Memantulkan pada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya.

d.    Tetap dengan Perasaan

Teknik ini bisa digunakan pada saat klien menunjuk pada perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan yang ia sangat ingin menghindarinya.

11 Kelebihan dan kelemahan Ø Kelebihan1.        Terapi Gestalt menangani masa lampau dengan membawa aspek-aspek masa lampau yang relevan ke saat sekarang.

2.        Terapi Gestalt memberikan perhatian terhadap pesan-pesan nonverbal dan pesan-pesan tubuh.

3.        Terapi Gestalt menolakk mengakui ketidak berdayaan sebagai alasan untuk tidak berubah.

4.        Terapi Gestalt meletakkan penekanan pada klien untuk menemukan makna dan penafsiran-penafsiran sendiri.

5.        Terapi Gestalt menggairahkan hubungan dan mengungkapkan perasaan langsung menghindari intelektualisasi abstrak tentang masalah klien.

Ø Kelemahan

1.      Terapi Gestalt tidak berlandaskan pada suatu teori yang kukuh

2.      Terapi Gestalt cenderung antiintelektual dalam arti kurang memperhitungkan faktor-faktor kognitif.

3.      Terapi Gestalt menekankan tanggung jawab atas diri kita sendiri, tetapi mengabaikan tanggung jawab kita kepada orang lain.

4.      Teradapat bahaya yang nyata bahwa terapis yang menguasai teknik-teknik Gestalt akan menggunakannya secara mekanis sehingga terapis sebagai pribadi tetap tersembunyi.

5.      Para klien sering bereaksi negative terhadap sejumlah teknik Gestalt karena merasa dianggap tolol. Sudah sepantasnya terapis berpijak pada kerangaka yang layak agar tidak tampak hanya sebagai muslihat-muslihat.

Referensi :

Subandi, M.A.Psikoterapi.Unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM:Pustaka Pelajar

Corey, Gerald.1995.Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi.Bandung: PT. Eresco

NO ASPEK KETERANGAN
1 Nama tokoh Eric Berne
2 Konsep dasar            Analisis transaksional didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami keputusan-keputusannya pada masa lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang telah pernah diambil. Berne dalam pandangannya meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih dan dalam tingkat kesadaran tertentu individu dapat menjadi mandiri dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya.

Analisis transaksional sebagai suatu sistem terapi yang didasarkan pada suatu teori kepribadian yang memusatkan perhatiannya pada tiga pola perilaku yang berbeda sesuai status egonya :

a.    Status ego orang tua ( SEO )

Adalah bagian dari kepribadian yang menunjukkan sifat-sifat orang tua. Orang tua dalam pandangan kita selalu akan memperlihatkan sebagai nurturing parent (orang tua yang mengasuh) dan critical parent (orang tua yang kritis).\

b.    Status ego dewasa ( SED )

Adalah bagian dari kepribadian yang menunjuk pada berbagai gambaran sebagai bagian objektif dari kepribadian. Status egonya memperlihatkan kestabilan, tidak emosional, rasional, bekerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah.

c.    Status ego anak ( SEA )

Adalah bagian dari kepribadian yang menunujukkan ketidakstabilan, masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu. Status egonya berisi perasaan-perasaan, dorongan-dorongan, dan tindakan-tindakan yang spontan.3Hakikat manusia·      Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk membuat keputusan.

·      manusia mempunyai kemampuan untuk membuat rencana-rencana kehidupan kemudian memilih dan memutuskan rencana-rencana terbaik bagi dirinya rencana-rencana yang telah dibuatnya itu terus dimiliki sesuai dengan irama perkembangan hidupnya ia dapat memutuskan rencana yang lebih baik lagi bagi kehidupan selanjutnya.

·      Manusia dalah makhluk yang bertanggung jawab..4Hakikat konselingHakikat terapi ini adalah perancangan status ego klien dalam bertransaksi sehingga klien mampu mempromosikan dirinya dengan tepat serta berupaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi klien atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran yang logis, rasional dan tujuan-tujuan yang realistis dalam berhubungan dengan orang lain. Pendekatan kognitif dan behavioral pada terapi ini dirancang untuk membantu orang-orang dalam mengevaluasi keputusan yang telah dibuatnya seseuai dengan kelayakan saat ini.5Tujuan konselinga)    Membantu klien untuk membuat keputusan-keputusan baru dalam mengarahkan atau mengubah tingkah laku dalam kehidupannya.

b)   Memberikan kepada klien suatu kesadaran serta kebebasan untuk memilih cara-cara serta keputusan-keputusan mengenai posisi kehidupannya serta menghindarkan klien dari cara-cara yang bersifat deterministic.

c)    Memberikan bantuan kepada klien berupa kemungkinan-kemungkinan yang dapat dipilih untuk memantapkan dan mematangkan status egonya.6Karakteristik konseling·       Konseling analisis transaksional lebih menitik beratkan perhatiannya pada faktor insight dan pemahaman dalam membantu klien mencapai perubahan tingkah lakunya.

·       Proses konseling analisis transaksional bersifat aktif, direktif dan didaktif. Dalam hal ini konseling merupakan proses belajar mengajar dimana konselor sebagai pembelajar dan klien sebagai pelajar. Dalam proses tersebu konselor aktf mengajukan pertanyaan- pertanyaan tentang diri klin dan interaksinya dengan orang lain, disamping itu ia mengarahkan proses tersebut agar tujuan yang telah disepakati tercapai.

·       Konseling analisis transaksional pada dasarnya merupakan pendekatan yang dapat digunakan dalam konseling individual akan tetapi sangat cocok untuk konseling kelompok.

·       Konseling analisis transaksional menekankan pentingnya kontrak dalam proses konseling, yaitu kesepakatan antara konselor dengan klien yang mencerminkan adanya persamaan hak dan kewajiban antara keduanya dalam mengelola proses konseling untuk mencapai tujuan yang diinginkan.7Peran dan fungsi konselor   Menurut Lutfi Fauzan (1994:70) Peran konselor adalah sebagai guru, pelatih dan penyelamat dengan terlibat secara penuh dengan konseli. Konselor berperan sebagai guru yang menjelaskan teknik-teknik seperti analisis struktural, analisis transaksional, naskah hidup, dan analisis game.

Di dalam analisis transaksional konselor berperan sebagai : membantu klien menemukan kemampuan diri untuk berubah dengan membuat keputusan saat sekarang., membantu klien memperoleh alat yang digunakan untuk mencapai perubahan, mendorong dan mengajar klien mendasarkan diri pada SED-nya sendiri dari pada SED konselor, menciptakan lingkungan yang memungkinkan klien dapat membuat keputusan-keputusan baru dalam hidupnya dan keluar dari rencana kehidupan yang menghambat perkembangannya.8Hubungan konselor dengan konseliDalam proses konseling, konselor dan klien bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Dalam kerjasama tersebut, konselor dan klien melaksanakan tanggung jawab masing-masing sebagaimana telah ditetapkan. Dalam hal ini konselor dan klien sama-sama aktif berupaya untuk mencapai tujuan konseling.9Asumsi tingkah laku bermasalah·      Manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa lampaunya (Manusia selalu berubah dan bebas untuk menentukan pilihanya).

·      Manusia bisa berubah karena adanya penemuan tiba-tiba. Hal ini merupakan hasil AT yang dapat diamati. Banyak orang yang pada mulanya tidak mau atau tidak tahu dengan perubahan, tetapi dengan adanya informasi, cerita, atau pengetahuan baru yang membuka cakrawala barunya, maka ia menjadi bersemangat untuk menyelidiki terus dan berupaya melakukan perubahan.

·      Manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemprograman awal (manusia dapat berubah asalkan ia mau). Perubahan manusia itu adalah persoalan di sini dan sekarang (here and now).

·      Manusia bisa belajar mempercayai dirinya dirinya sendiri , berpikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-persaannya.

·      Manusia sanggup untuk tampil di luar pola-pola kebisaaan dan menyeleksi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru.

·      Manusia bertingkah laku dipengaruhi oleh pengharapan dan tuntutan dari orang-orang lain

·      Manusia dilahirkan bebas, tetapi salah satu yang pertama dipelajari adalah berbuat sebagaimana yang diperintahkan.10Teknik-Teknik Konselingteknik yang digunakan dalam pendekatan Analisis Transaksional adalah

1.     Analisis Transaksional

2.     Analisis Struktural

3.     Analisis Script

4.     Role Playing (bermain peranan)

5.     Family Modeling11Kelebihan dan kelemahanØ Kelebihan:

a.    Sangat berguna dan para konselor dapat dengan mudah

menggunakannya.

b.    Menantang konseli untuk lebih sadar akan keputusan awal mereka.

c.    Integrasi antara konsep dan praktek analisis transaksional dengan konsep tertentu dari terapi gestalt amat berguna karena konselor bebas menggunakan prosedur dari pendekatan lain.

d.    Memberikan sumbangan pada konseling multikultural karena konseling diawali dengan larangan mengaitkan permasalahan pribadi dengan permasalahan keluarga dan larangan mementingkan diri sendiri

Ø Kelemahan

a.    Banyak Terminologi atau istilah yang digunakan dalam analisis transaksional cukup membingungkan.

b.    Penekanan Analisis Transaksional pada struktur merupakan aspek yang meresahkan.

c.    Konsep serta prosedurnya dipandang dari perspektif behavioral, tidak dapat di uji keilmiahannya.

d.    Konseli bisa mengenali semua benda tetapi mungkin tidak merasakan dan menghayati aspek diri mereka sendiri.

Referensi :

Fauzan Lutfi,(1994),Pendekatan-Pendekatan Konseling Individual;,Malang :

Elang Mas.

Pujosuwarno Sayekti, (1993). Berbagai Pendekatan dalam Konseling.

Yogyakarta: Menara Mas Offset

Surya Mohammad, (2003). Teori-teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani

Quraisy.

 

peta Kognitif pendekatan konseling analisis transaksional

No ASPEK KETERANGAN
1 Nama tokoh Walter Bigham, John Darley, Donald G.Paterson dan E.G.Williamson
2 Konsep dasar Teori ini lebih dekat dengan empirisme, yang mempunyai pandangan optimistis, bahwa walaupun manusia telah dibekali pembawaan tetapi pembawaan itu tidak menentukan. Manusia merupakan satu kesatuan yang utuh dan pengetahuan mengenai dunia merupakan tujuan pendidikan termasuk pengetahuan yang berguna untuk siswa dalam mencapai dan menyesuaikan pribadinya yang merupakan pula tujuan konseling.

Teori ini berpendapat bahwa perkembangan kepribadian manusia ditentukan oleh faktor pembawaan maupun lingkungannya. Pada tiap orang ada sifat-sifat yang umum dan khusus yang merupakan sifat yang unik. Hal ini terjadi karena pembawaan dan lingkungan tiap orang tidak sama. Teori ini memandang bahwa kepribadian adalah suatu sistem yang saling ketergantungan dengan trait atau factor seperti kecakapan, minat, sikap, tempramen, dll.3Hakikat manusia1.     Manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik atau buruk. Makna hidup adalah mencari kebenaran dan berbuat baik serta menolak kejahatan. Menjadi manusia seutuhnya tergantung pada hubungan dengan orang lain.

2.     Diri manusia hanya berkembang di dalam masyarakat dan pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup sepenuhnya di luar masyarakat. Manusia memerlukan orang lain dalam mengembangkan potensi dirinya. Aktualisasi diri hanya akan dapat dicapai dalam hubungannya dan atau dengan bantuan orang lain, manusia tidak dapat hidup sepenuhnya dengan melepaskan diri dari masyarakat.

3.     Manusia ingin mencapai kehidupan yang baik, sebenarnya usaha kearah itupun sudah menunjukkan dan merupakan kehidupan yang baik. Dengan demikian, usaha manusia itu bukan hanya berkembang secara vertikal saja, tetapi juga secara horizontal.4Hakikat konseling1.     Konseling   merupakan suatu proses belajar yang menekankan hubungan rasional antara klien dan konselor.

2.     Konseling merupakan hubungan yang bersifat pribadi antara konselor dan klien yang ditujukan untuk membantu klien memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri, dan mengaktualisasikan diri.

3.     Konseling diupayakan sebagai mana pendidkan membantu klien mengembangkandirinya sesuai dengan nilai – nilai pribadi dan nilai- nilai masyarakat.

4.     Konsep konseling lebih luas dari pada konsep psikoterapi.5Tujuan konseling1.     Membantu individu merasa lebih baik dengan menerima pandangan dirinya sendiri dan membantu individu berpikir lebih jernih dalam memecahkan masalah dan mengontrol perkembangannya secara rasional.

2.     Memperkuat keseimbangan antara pengaktifan pemahaman sifat-sifat, sehingga dapat bereaksi dengan wajar dan stabil.

3.     Mengubah sifat-sifat subjektif, dan kesalahan dalam penilaian diri (konsep diri) dengan menggunakan metode atau cara ilmiah.

4.     Mengajak siswa (klien) untuk berfikir mengenai dirinya serta mampu mengembangkan cara-cara yang dilakukan agar dapat keluar dari masalah yang dihadapinya.6Karakteristik konselinga.    Konselor

·           Memiliki pengalaman, keahlian dalam teori perkembangan manusia, dan pemecahan masalah.

·           Dapat memanfaatkan teknik-teknik pemecahan individu baik teknik testing maupun non testing.

·           Dapat melaksanakan proses konseling secara fleksibel.

·           Dapat menerapkan strategi pengubahan tingkah laku beserta teknik-tekniknya.

·           Dapat menempatkan diri sebagai guru.

·           Berusaha mengarahkan klien kearah yang lebih baik.

·           Menerima sebagian tanggung jawab atas masalah klien.

·           Yakin terhadap asumsi konseling yang efektif.

·           Tidak netral sepenuhnya.

·           Memiliki keahlian dan teori perkembangan manusia dan pemecahan masalah.

·           Mempunyai ketrampilan yang seharusnya dimiliki oleh konselor.

b.     Klien

·                                  Datang secara sukarela maupun diundang.

·           Bersedia belajar memahami dirinya sendirinya dan mengarahkan diri dengan mengubahnya responnya dengan tepat.

·           Menggunakan kemampuan berfikirnya untuk lebih memperbaiki dirinya sehingga dapat mencapai kehidupan yang rasional dan memuaskan.

·           Bekerjasama dengan konselor dan bersedia mengikuti arahan konselor dalam hal proses pengubahan7Peran dan fungsi konselorØ peran konselor :

1.      Memberitahu klien tentang berbagai kemampuannnya yang diperoleh konselor dari hasil testing, angket dan alat pengukur yang lain.

2.      Konselor secara aktif mempengaruhi perkembangan klien.

3.      Konselor membantu mencari sebab individu tidak memiliki sumber personal untuk menentukan individualitasnya.

4.      Konselor aktif dalam situasi belajar, melakukan diagnosis, menyajikan informasi, mengumpulkan dan menilai data untuk membantu individu.

Ø fungsi konselor:

1.       Dapat menempatkan diri sebagai guru

2.       Menerima sebaian tanggungjawab terhadap masalah klien

3.       Bersedia mengarahkan klien ke arah yang lebih baik

4.       Dapat melaksanakan proses konseling secara fleksibel8Hubungan konselor dengan konselihubungan konselor dan konseli dalam proses konseling adalah:

a)  Bersifat individual dan rahasia.

b)  Hubungan bersifat membantu dan konselor memusatkan perhatian kepada klien.

c)  Bersifat developmental, memperhatikan masa depan klien.

d)  Memperhatikan aspek afeksi yang digunakan sebagai tenaga penggerak untuk motivasi.

e)  Menekankan pada martabatnya dan harga diri individu sebagai pribadi.

f)   Memusatkan perhatian keusaha menggunakan kemampuan berfikir untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

g)  Bersifat pribadi, bersahabat, akrab dan empati. Bersifat remedial dan development.9Asumsi tingkah laku bermasalahMunculnya masalah dalam kehidupan seseorang dapat dikatakan secara pasti memerlukan pemecahan, akan tetapi tidak semua orang mampu menemukan cara pemecahan terbaiknya, sehingga memerlukan bantuan pihak lain, salah satunya melalui konseling.

Pengkategorian masalah secara psikologis yang terkenal dalam trait and factor, yaitu modelnya Bordin dan modelnya Pepinsky & Pepinsky.

Pengkategorian masalah menurut Bordin adalah :

a.     Dependence (bergantung),

b.     Lock of information (kurang informasi)

c.     Self-conflict (konflik diri)

d.     Choice anxiety (cemas memilih)

e.     No problem (bukan masalah-masalah diatas)

Dalam artian individu mengalami masalah yang tidak dapat digolongkan pada masalah-masalah diatas atau masalah-masalah lain.

Pengkategorian masalah menurut Pepinsky adalah :

a.    Lock of assurance (kurang percaya pada diri sendiri)

b.    Lock of information (kurang informasi)

c.    Lock of skill (kurang keterampilan)

d.    Dependence (bergantung)

e.    Self Conflik (konflik diri)

f.     Choice anxiety (cemas dalam pilihan)

Faktor-faktor penyebab :

Ø Faktor internal bagi timbulnya masalah antara lain :

·           Individu banyak dipengaruhi kehidupan emosi, sehingga kemampuan berpikir rasionalnya terhambat.

·           Potensi-potensinya kurang berkembang atau tidak mendapat kesempatan berkembang secara penuh.

·           Kurang memiliki kontrol diri.

·           Memiliki kekurang tertentu, baik secara fisik maupun mental, dan yang merupakan faktor keturunan.

Ø Faktor eksternal bagi timbulnya masalah antara lain :

·           Perlakuan orang tua, sikap orang tua yang terlalu menekan, menolak maupun melindungi merupakan sumber timbulnya masalah.

·           Kondisi lingkungan dan masyarakatnya (meliputi lingkungan fisik dan sosial), pengalaman atau sejarah pribadi yang menimbulkan trauma.

·           Ada tidaknya kesempatan mengembangkan diri, baik yang menyangkut situasi maupun pendukung (orangnya).10Teknik-teknik konselingteknik-teknik konseling trait and factor yaitu :

1.     Pengunaan hubungan baru (Rapport). Konselor harus menerima klien dalam hubungan yang hangat, intim, bersifat pribadi, penuh pemahaman dan terhindar dari hal-hal yang mengancam klien.

2.     Memperbaiki pemahaman diri, klien harus memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, dan dibantu untuk menggunakan kekuatannya dalam upaya mengatasi kelemahannya.

3.     Pemberian nasehat dan perencanaan program kegiatan. Konselor mulai dari pilihan, tujuan, pandangan atau sikap konselor dan kemudian menunjukkan data yang mendukung atau tidak mendukung dari hasil diagnosis. Penjelasan mengenai pemberian nasehat harus dipahami klien.

Tiga metode pemberian nasehat yang dapat digunakan oleh

Konselor :

a.    Nasehat langsung (direct advising), dimana Konselor secara terbuka dan jelas menyatakan pendapatnya.

b.    Metode persuasif, dengan menunjukan pilihan yang pasti secara jelas.

c.    Metode penjelasan, yang merupakan metode ynag paling dikehendaki dan memuaskan. Konselor secara hati-hati dan perlahan-lahan menjelaskan data diagnostik dan menunjukan kemungkinan situasi yang menuntut penggunaan potensi klien.

4.    Melaksanakan rencana, yaitu konselor memberikan bantuan dalam menetapkan pilihan atau keputusan secara implementasinya.

5.     Menunjukkan kepada petugas lain (alih tangan) bila dirasa konselor tidak dapat mengatasi masalah klien.11Kelebihan dan kelemahanØ kelebihan

1.         Teori ciri dan sifat menerapkan pendekatan ilmiah pada konseling

2.         Penekanan pada penggunaan data tes objektif, membawa kepada upaya perbaikan dalam pengembangan tes dan penggunanya, serta perbaikan dalam pengumpulan data lingkungan.

3.         yang diberikan pada diagnosa mengandung makna sebagai suatu perhatian terhadap masalah dan sumbernya mengarahkan kepada upaya pengkreasian teknik-teknik untuk mengatasinya.

4.         Penekanan pada aspek kognitif merupakan upaya menyeimbangkan pandangan lain yang lebih menekankan afektif atau emosional.

Ø kelemahan:

1.      Kurang diindahkan adanya pengaruh dari perasaan, keinginan, dambaan aneka nilai budaya (cultural values), nilai-nalai kehudupan (personal values), dan cita-cita hidup, terhadap perkembangan jabatan anak dan remaja (vocational development) serta pilihan program/bidang studi dan bidang pekerjaan (vocational choice).

2.      Kurang diperhatikan peran keluarga dekat, yang ikut mempengaruhi rangkaian pilihan anak dengan cara mengungkapkan harapan, dambaan dan memberikan pertimbangan untung-rugi sambil menunjuk pada tradisi keluarga; tuntutan mengingat ekonomi keluarga; serta keterbatasan yang konkrit dalam kemampuan finansial, dan sebagainya.

3.      Kurang diperhitungkannya perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat, yang ikut memperluas atau membatasi jumlah pilihan yang tersedia bagi seseorang.

4.      Kurang disadari bahwa kualifikasi yang dituntut untuk mencapai sukses di suatu bidang pekerjaan atau program studi dapat berubah selama tahun-tahun yang akan datang.

5.      Pola ciri-ciri kepribadian tertentu pasti sangat membatasi jumlah kesempatan yang terbuka bagi seseorang, karena orang dari berbagai pola ciri kepribadian dapat mencapai sukses di bidang pekerjaan yang sama.

Referensi :

Suparman, Mulawarman. 1992 . Pendekatan- Pendekatan Konseling individual. Malang: Elang Mas.

Pujosuwarno, Sayekti. 1993. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Jogja: Menara Mas Offset.

peta kognitif pendekatan konseling trait and factor

NO ASPEK

KETERANGAN

1 Nama tokoh William Glasser
2 Konsep dasar Terapi Realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Terapi Realitas, yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan”, dapat diterapkan pada psikoterapi, konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga, dan perkembangan masyarakat.
3 Hakikat manusia 1.    Konselor umumnya memandang individu atas dasar tingkah lakunya. Pendekatan realita memandang tingkah laku berdasar pengukuran obyektif, yang disebut realita. Ia berupa realitas praktis dari realitas moral.

2.    Manusia memiliki kebutuhan psikologis tunggal yang disebut kebutuhan akan identitas. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan merasa adanya keunikan, perbedaan dan kemandirian.

3.    Dasar konseling realita adalah membantu konseli mencapai kebutuhan untuk dicintai dan mencintai serta kebutuhan untuk merasa bahwa kita berharga bagi diri sendiri dari pada orang lain.

4.    Manusia memiliki 3 kekuatan untuk tumbuh yang mendorong menuju identitas sukses, yaitu: mengisi dan memuaskan identitas sukses, menampilkan tingkah laku yang bertanggungjawab dan memiliki hubungan interpersonal yang baik.

5.    Sejalan dengan nomor 4, kekuatan tumbuh bukanlah pembawaan. Dengan kata lain, kekuatan untuk memenuhi kebutuan dilakukan dengan belajar sejak dini.

6.    Konseling realita tidak terikat pada filsafat deterministik dala memandang manusia, tetapi membuat asumsi bahwa pada akhirnya manusia mengarahkan diri sendiri. Prinsip ini berarti mengakui tanggungjawab setiap orang untuk menerima akibat dari tingkah lakunya. Dengan kata lain, orang akan tumbuh bukan ditentukan oleh penentu-penentu yang telah ada.

7.    Realisasi untuk tumbuh dalam rangka memuaskan kebutuhan harus dilandasi oleh prnsip 3R: Right, Responsibility, reality4Hakikat konselingProses dialog rasional antara konselor dengan klien agar klien menjadi individu yang bertanggung jawab dan membantu siswa dalam mengatasi masalahnya.5Tujuan konseling1.Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata.

2.Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya.

3.Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

4.Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri.

5.Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri.6Karakteristik konselinga.       Terapi realitas menolak tentang penyakit mental. Ia berasumsi bahwa bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari ketidak bertanggung jawaban. Pendekatan ini tidak berurusan dengan diagnosis-diagnosis psikologis. Ia mempersamakan gangguan mental dengan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan mempersamakan kesehatan mental dengan tingkah laku yang bertanggung jawab.

b.      Terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang alih-alih pada perasaan- perasaan dan sikap-sikap. Meskipun tidak menganggap perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu tidak penting, tetapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang.

c.       Terapis realitas berfokus pada saat sekarang, bukan pada masa lampau. Karena masa lampau seseorang telah tetap dan tidak bisa diubah, maka yang bisa diubah hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang.

d.      Terapi realitas menekankan pertinbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya.

e.       Terapi realitas tidak menekankan transferensi. Ia tidak memandang konsep tradisional tentang transferensi sebagai hal yang penting. Ia memandang transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi. Terapi realitas mengimbau agar para terapis menempuh cara beradanya yang sejati, yakni bahwa mereka menjadi diri sendiri, tidak memainkan peran sebagai ayah atau ibu klien.

f.       Terapi realitas menekankan aspek-aspek kesadaran, bukan aspek-aspek ketaksadaran.

g.       Terapi realitas menhapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif dan bahwa hukuman untuk kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas kegagalan pada klien dan perusakan hubungan terapiutik.

h.      Terapi realitas menekankan tanggng jawab, yang oleh Glasser(hlm 13) didefinisikan sebagai “kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sendiri dan melakukannya dengan cara tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka”. Belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup. Meskipun kita semua memiliki kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk memiliki rasa berguna, kita tidak memiliki kemampuan bawaan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.7Peran dan fungsi konselorPeran konselor adalah melibatkan diri dengan konseli dan kemudian membuatnya untuk menghadapi kenyataan. Yang antara lain sebagai berikut :

1.    Bertindak sebagai pembimbing yang membantu konseli agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realistis.

2.    Berperan sebagai moralis.

3.    Motivator. (Menyampaikan dan meyakinkan kepada klien bahwa seburuk apapun suatu kondisi masih ada harapan)

4.    Sebagai guru. (Mengajarkan klien untuk mengevaluasi perilakunya, misalnya dengan bertanya, “Apakah perilaku Anda    (atau nama) saat ini membantu Anda untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan Anda?)

5.    Memberikan kontrak.

6.    Mengembangkan kondisi fasilitatif dalam konseling dan hubungan baik dengan klien.

Fungsi konselor dalam pendekatan realitas adalah melibatkan diri dengan konseli, bersikap direktif dan ditaktif, yaitu berperan seperti guru yang mengarahkan dan dapat saja mengkonfrontasi, sehingga konseli mampu menghadapi kenyataan. Di sini, terapis sebagai fasilitataor yang membantu. konseli agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realistis.8Hubungan konselor dengan konseliSebelum terjadi terapi yang efektif, keterlibatan antara terapis dengan klien harus berkembang. Para klien harus mengetahui bahwa orang yang membantu mereka, yakni terapis, menaruh perhatian yang cukup kepada mereka, menerima dan membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka di dunia nyata. Di bawah ini merupakan tinjuan ringkas atas prinsip-prinsip yang spesifik yang menyajikan kerangka bagi proses belajar yang terjadi sebagai hasil dari hubungan antara terapis dan klien atau guru dan siswa, yaitu :

Ø  Terapi realitas berlandaskan hubungan atau keterlibatan pribadi antara terapis dan klien. Terapis, dengan kehangatan, pengertian, penerimaan, dan kepecayaannya atas kesanggupan klien untuk mengembangkan suatu identitas keberhasilan, harus mengkomunikasikan bahwa dia menaruh perhatian. Melalui keterlibatan pribadi dengan terapis, klien belajar bahwa lebih banyak hal dalam hidup ini dari pada hanya memusatkan perhatian kepada kegagalan, kesusahan, dan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab. Terapis mengembangkan hubungan yang sangat seraya menghidari hubungan yang menjurus kepada percintaan. Menjadi tugas terapis untuk menentukan situasi terapiutik sehingga klien mamahami sifat, maksud, dan arah hubungan yang terjalin.

Ø  Perencanaan adalah hal yang esensial dalam terapis realitas. Situasi terapiutik tidak terbatas pada diskusi-diskusi antara terapis dan klien. Mereka harus membentuk rencana-rencana, jika sudah terbentuk harus dijalankan ; dalam terapi realitas tindakan adalah bagian yang esensial. Kerja yang paling penting dalam proses terapiutik adalah membantu klien agar mengenali cara-cara spesifik untuk mengubah tingkah laku kegagalan menjadi tingkah laku keberhasilan.

Ø  Komitmen adalah kunci utama terapi realitas. Setelah para klien membuat pertimbangan nilai mengenai tingkah laku mereka sendiri dan memutuskan rencana tindakan, terapis membantu mereka dalam membuat suatu komitmen untuk melaksanakan rencana-rencana itu dalam kehidupan mereka.

Ø  Terapi realitas tidak menerima dalih. Tidak semua komitmen klien bisa terlaksana, ada rencana-rencanayang bisa gagal. Tetapi, jika rencana-rencana gagal terapi realitas tidak menerima dalih.9Asumsi tingkah laku bermasalahReality therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa perilaku individu itu sebagai perilaku yang abnormal. Konsep perilaku menurut konseling realitas lebih dihubungkan dengan berperilaku yang tepat atau berperilaku yang tidak tepat. Menurut Glasser, bentuk dari perilaku yang tidak tepat tersebut disebabkan karena ketidak mampuannya dalam memuaskan kebutuhannya, akibatnya kehilangan ”sentuhan” dengan realitas objektif, dia tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar kebenaran, tangguang jawab dan realitas.

Meskipun konseling realitas tidak menghubungkan perilaku manusia dengan gejala abnormalitas, perilaku bermasalah dapat disepadankan dengan istilah ”identitas kegagalan”. Identitas kegagalan ditandai dengan keterasingan, penolakan diri dan irrasionalitas, perilakunya kaku, tidak objektif, lemah, tidak bertanggung jawab, kurang percaya diri dan menolak kenyataan.10Teknik-teknik konselingTerapi realitas bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Dalam membantu klien dalam menciptakan identitas keberhasilan, terapis bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut :

1.    Terlibat dalam permainan peran dengan klien

2.    Menggunakan humor

3.    Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun

4.    Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan

5.    Bertindak sebagai model dan guru

6.    Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi

7.    Menggunakan “terapi kejutan verbal” atau sarkasme yang layak untuk mengonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis dan

8.    Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.11Kelebihan dan kelemahanØ  Kelebihan :

·                     dapat diterapkan pada banyak populasi yang berbeda.

·                     Pendekatan konkret.

·                     menekankan pada treatmen jangka pendek

·      meningkatkan tanggung jawab dan kebebasan individu tanpa penyalahan atau kritik atau berusaha mengatur kembali keseluruhan kepribadian.

·      dimaksudkan untuk resolusi konflik

Ø  Kelemahan

·      mengabaikan konsep-konsep ketidaksadaran dan sejarah pribadi

·      Meyakini bahwa penyakit mental terjadi krn individu bertindak tidak bertanggung jawab, padahal penyakit mental tidak terjadi begitu saja.

·      terlalu sederhana dan hanya punya sedikit konstruk teoritis

·        mudah sekali berubah menjadi terlalu moralistik

 

Referensi :

Pujosuwartno, Sayekti.( 1993). Berbagai Pendekatan Dalam konseling. Yogyakarta :           Menara             mas Offset.

Fauzan Lutfi,(1994),Pendekatan-Pendekatan Konseling Individual;,Malang :

Elang Mas.

Makalah Teori Kepribadian Kognitif “George A kelly”

Standar

MAKALAH

Teori Kepribadian Kognitif

“George A.Kelly”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Kepribadian

Dosen Pengampu :

Rahmat A.,M.S

Nama Kelompok :

Nur khomisah (1113500083)

Kelas :BK / 4A

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL

TAHUN 2015

                 KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam penyusunan tugas mata kuliah”Teori Kepribadian”. Shalawat dan salam semoga selalu tersampaikan kepada Nabi agung , Muhammad SAW semoga kita tergolong umatnya dan mendapatkan syafaatnya amin.

Dalam tugas mata kuliah ini kami akan membahas tentang “Teori Kepribadian kognitif George A. Kelly“ dengan harapan semoga dapat memberikan sedikit wawasan kepada kita semua .

Selanjutnya apabila dalam tugas ini terdapat kesalahan dari susunan kalimat maupun dalam penulisan, kami mohon maaf dan selalu terbuka menerima masukan, kritikan serta mengharapkan saran dari rekan-rekan semua khususnya kepada dosen pengampu yaitu Rahmat A.,M.S. tentunya kritik dan saran yang sifatnya membangun guna perbaikan tugas selanjutnya. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.

Akhir kata kami mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah turut serta melancarkan tersusunnya tugas mata kuliah ini, mudah-mudahan ini semua bisa menjadi suatu amal shaleh bagi penyusun maupun pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

JUDUL 1

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB I Pendahuluan 4

  1. Latar belakang 4
  2. Rumusan Masalah 5
  3. Tujuan5

BAB II Pembahasan 6

  1. Latar belakang George A. Kelly 6
  2. Pandangan Kelly terhadap Manusia 8
  3. Pandangan Kelly mengenai kepribadian dan individu 9
  4. Teori kepribadian George A. Kelly 11
  5. Pandangan Kelly mengenai perkembangan kepribadian 15
  6. Aplikasi teori kepribadian Kelly aplikasi klinis 16
  7. keunggulan dan kelemahan teori kontruk personal 17

BAB III Penutup19

  1. Kesimpulan19
  2. Saran19

Daftar Pustaka20

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

     Banyak berbagai teori-teori kepribadian yang telah dikemukakan oleh beberapa tokoh. Tetapi kali ini Saya akan mengupas dari salah satu tokoh dari kepribadian yaitu teori kognitif yang dikembangkan oleh George A. Kelly Tokoh dari teori ini , dia merupakan seseorang yang sangat gemar membaca buku, dan berani untuk mengeksplorasikan dunia yang belum dikenalnya dengan cara berhipotesis.dimana hal ini membahas tiga teori yang pada dasarnya dikembangakan dengan tidak melakukan kontak dengan klien dalam terapi. Berbeda dengan teori Freud dan Rogers, George A. Kelly bermaksud memahami individu secara utuh yaitu dengan menekankan pada cara-cara dalam mengkonstruksi yaitu mempersepsi, menafsirkan, mengontrol, dan meramalkan peristiwa di sekitar dunia  mereka.

     George A. Kelly menggunakan kata konstruk untuk merujuk kepada ide atau kategori yang digunakan orang untuk menginterpretasi dunia mereka. Akan tetapi, Kelly mengeksplorasi proses kognitif tertentu yang menjadi alat individu untuk mengategorikan orang atau benda dan mengkosntruk makna dari peristiwa harian setiap individu secara mendetail. Orang-orang mengaplikasikan konstruk mereka terhadap interpretasi peristiwa sehari-hari melalui prosedur mental yang umumnya disebut “proses kognitif”. Kelly meyakini bahwa tidak ada kebenaran yang objektif dan kebenaran yang mutlak absolut. Fenomena yang terjadi hanya berarti manakala dihubungkan dengan cara individu mengkonstruksi fenomena yang ada

     George A. Kelly tidak menerima pandangan Skinner bahwa perilaku dibentuk semata – mata oleh lingkungan, yaitu realitas. Namun juga keberatan dengan fenomenologi ekstrem.  Kelly percaya bahwa alam semesta bersifat riil namun, pribadi yang berbeda akan memahaminya dengan cara yang berbeda. Karena itu konstrak pribadi (personal construck) manusia, atau cara menginterpretasikan dan menjelaskan peristiwa – peristiwa menjadi kunci untuk memprediksi perilaku mereka.

  1. RUMUSAN MASALAH

   Sesuai dengan judul makalah ini “Teori Kepribadian Kogitif : George A. Kelly”. Berkaitan dengan judul tersebut, maka masalahnya dapat di identifikasi sebagai berikut :

  1. Bagaimana Latar belakang George A. Kelly ?
  2. Bagaimana pandangan Kelly terhadap Manusia?
  3. Bagaimana  pandangan Kelly mengenai kepribadian dan individu?
  4. Seperti apakah teori kepribadian George A. Kelly?
  5. Bagaimana pandangan Kelly mengenai perkembangan kepribadian ?
  6. Bagaimana aplikasi teori kepribadian Kelly aplikasi klinis?
  7. Seperti apakah keunggulan dan kelemahan teori kontruk personal?
  8. Tujuan
  9. Untuk memenuhi tugas mata kuliah
  10. Untuk mengetahui tentang latar belakang george A. Kelly
  11. Untuk mengetahui tentang pandangan Kelly terhadap Manusia
  12. Untuk mengetahui pandangan Kelly mengenai kepribadian dan individu
  13. Untuk mengetahui mengenai teori kepribadian George A. Kelly
  14. Untuk mengetahui pandangan Kelly mengenai pertumbuhan dan perkembangan
  15. Untuk mengetahui tentang pengaplikasian teori kepribadian Kelly aplikasi klinis
  16. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan teori kontruk personal

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Latar Belakang George A. Kelly

            Menurut http://fahreziadi.blogspot.com/2014/05/teori-kepribadian-geoge-kelly.html, bahwa George Alexander Kelly lahir pada tanggal 28 april 1905 di Perth, Kansas. Ia mendapat gelar sarjananya di Friends University, Kansas, Park College di Missouri, lalu mendapat gelar pascasarjananya di University of Kansas, University of Minnesota, dan University of Edinburgh, kemudian mendapat gelar Ph.D.-nya dari State University of Iowa pada 1931. Dia membangun klinik keliling di Kansas, sebagai psikolog penerbang pada perang dunia II, dan pernah menjadi profesor psikologi di Ohio State University dan Brandeis University.

Menurut http://sintaluckyedi.blogspot.com/ bahwa George Kelly adalah orang yang menolak untuk menerima sesuatu secara hitam putih dan suatu yang pasti bernilai benar atau salah. Dia adalah orang yang senang mencoba pengalaman baru, menolak kebenaran yang absolut, dan karena itu merasa bebas untuk merekonstruk atau menginterpretasi fenomena, menantang konsep realitas objektif dan merasa bebas untuk bermain dalam dunia keyakinannya. Menurut pandangannya seorang manusia bebas untuk mengkonstruksi pemikiran dan pemahamannya tentang dunia sehingga menghasilkan sebuah interpretasi yang berdasar pada konstruk personal yang telah dibentuknya.

Sebelumnya teori George Kelly disebut dengan teori kognitif, teori perilaku, teori ekstensial, dan teori fenomenologi. Pada dasarnya pandangan Kelly terhadap kepribadian berbeda dengan cara pandang tokoh lain, Kelly lebih kompleks dalam perspektifnya hingga teori Kelly dapat disebut metateori atau teori mengenai teori-teori. Disebut sebagai metatori karena Kelly tidak menerima posisi Skinner yang mengatakan perilaku dibentuk oleh lingkungan atau kenyataan, tetapi ia juga menolak fenomenologi ekstrem yang mengatakan bahwa realita adalah dipersepsikan manusia. Maka lebih tepatnya Kelly menggabungkan keduanya. Manusia tidak hanya dibentuk oleh lingkungan tetapi juga dibentuk oleh pikirannya untuk menentukan perilakunya. Persepsi manusia mengenai realita diwarnai oleh konstruk personal manusia—atau cara manusia itu melihat, menjelaskan, dan menginterpretasikan kejadian dalam dunianya.

Teori yang dikemukakan Kelly biasa disebut teori Konstruk Personal. Kepribadian individu dapat dipahami dalam kerangka kumpulan konstruk personal yang digunakan untuk menginterpretasi dunia. Teori ini berfokus pada keunikan dan keberagaman interpretasi manusia pada tiap stimulus yang mereka dapat. Keberagaman interpretasi tersebut adalah bukti dari adanya konstruk-konstruk yang berbeda pada setiap manusia yang berisi pengetahuan mereka tentang dunia, sehingga dapat digunakan untuk menguasai pengetahuan baru.

Kelly memulai dengan asumsi dasar bahwa semesta ini sebuah kenyataan sebagai suatu unit yang saling integral dan berkorelasi satu sama lain. Selain itu semesta bersifat fleksibel atau selalu berubah. Pikiran manusia juga bersifat nyata dan manusia berusaha menalari dunia yang selalu berubah. Orang yang berbeda melihat realitas dengan cara yang berbeda pula. Manusia mempunyai cara alternatif dalam melihat kenyataan. Kelly (1963) berasumsi“bahwa semua interpretasi di masa sekarang mengenai semesta dapat direvisi atau diganti.” Ia menyebut asumsi tersebut sebagai alternativisme konstruktif. Kelly yakin bahwa manusia yang menentukan masa depannya, bukan fakta. Fakta dan kenyataan tidak mendikte suatu kesimpulan, hanya membawa makna-makna untuk kita temukan.

Adanya stimulus yang sama tidak akan menjamin munculnya interpretasi yang sama pula.  Konstruk personal yang dimiliki oleh manusia berisikan pengalaman dan pengetahuan tentang dunia yang telah melalui proses kognitif dan membentuk sebuah kategorisasi, attribusi, prediksi dan interpretasi pada setiap benda dan peristiwa yang ada di sekitarnya. Sistem konstruk personal ini memberikan manusia kebebasan untuk memutuskan dan membatasi tindakan, karena sistem tersebut mengizinkannya untuk berhadapan dengan makna peristiwa, dan terbatas karena dia tidak akan pernah bisa membuat pilihan diluar dunia alternative yang berasal dari dirinya sendiri (Kelly, 1958, lm.58).

Terbentuknya sebuah konstruk personal juga berguna bagi seseorang untuk dapat memprediksi sebuah peristiwa yang mungkin akan terjadi di masa depan. Hal tersebut mungkin terjadi, karena sebuah kontruk personal adalah akumulasi dari pengalaman dan pengetahuan tentang dunia yang telah dia dapat. Menurut Kelly sebuah penalaran mendasari metafora yang merupakan jantung pandangan Kelly terhadap individu. Metafora tersebut adalah “orang sebagai ilmuan” (person as scientist). Jadi bagaimana seorang individu mengembangkan ide yang memungkinkannya untuk memprediksi peristiwa penting dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan orang sebagi ilmuwan memiliki dua konsekuensi lebih jauh. Pertama pandangan tersebut menyoroti fakta bahwa orang pada dasarnya berorientasi pada masa depan. Kedua adalah orang tersebut dapat mengadopsi beberapa teori yang berbeda untuk membuat tipe prediksi yang berbeda, maka demikian pula dengan orang awam. Jadi ada kemungkinan munculnya sebuah kontruksi alternatif di dalam konstruk personal manusia.

  1. Pandangan Kelly Tentang Manusia

       Dalam Yusuf,Syamsu (2008 :168) menjelaskan bahwa Pandangan Kelly Tentang Manusia adalah :

  1. Manusia adalah scientist yang mencoba untuk memprediksi dan mengontrol fenomena/tingkah laku.  Konsekuensi dari pandangan ini adalah sebagai berikut:
  • Manusia itu pada dasarnya berorientasi ke masa depan.
  • Manusia memiliki kemapuan untuk mempresentasikan atau mengkonsep lingkungan daripada hanya meresponnya.
  • Manusia dapat mengembangkan rumusan-rumusan alternatif teoritis tentang fenomena, menafsirkan dan mengkonstruksikan lingkungannya.
  • Kehidupan merupakan representasi atau konstrusi dari kenyataan; dan kualitas hidup manusia ditunjukkan manusia untuk menciptakan dan menciptakan kembali dirinya sendiri.
  1. Manusia itu bebas (free) tetapi juga terkurung (determined). Sistem konstruk individu dilengkapi dengan kebebasan untuk mengambil keputusan (freeom of decision) dan keterbatasan bertindak (ilmtasion of action) sebab dia tidak membuat pilihan di luar alternatif-alternatif yang telah ditetapkan.
  1. Pandangan Kelly Terhadap Ilmu Kepribadian dan Individu
  2. Pandangan Kelly Terhadap Ilmu Kepribadian

               Menurut http://dewiroudloh.blogspot.com/2014/01/george-kelly.html Bahwa Struktur kepribadian manusia adalah sistem konstruknya. Kelly mendasarkan teori kepribadiannya pada pandangan tentang ilmu pengetahuan dan karakteristik penyelidikan ilmiah yang emplisit. Konsepsinya berimplikasi bahwa semua teori dapat dievaluasi sebagai benar atau salah. Gagasan menilai teori berdasarkan kegunaannya dalam membuat prediksi memiliki implikasi signifikan. Tiap teori yang             berbeda memiliki kegunaan yang berbeda. Kelly menyebut ide     construktive alternativism yaitu kontruk ilmiah alternatif yang dapat memberikan pandangan yang berguna  tentang dunia.

               Dalam pandangan Kelly, upaya sains kepribadian tidak berkaitan dengan pengungkapan kebenaran atau sebagaimana yang diisyaratkan oleh Freud. Sains kepribadian merupakan upaya untuk memperbanyak sistem konstruk ilmiah yang berguna dalam memprediksikan peristiwa.

               Skema Metaphora Kelly (http://webspace.ship.edu/cgboer/kellysmetaphor.gif) Pandangan Kelly yang berlawanan dengan kebenaran dan dogma, memungkinkan seseorang membangun “suasana hati invitasional” dimana  seseorang bebas untuk mengundang sebanyak mungkin interpretasi fenomena alternatif dan memberikan perhatian kepada proposisi yang awalnya terlihat absurd.  Menurut Kelly, suasana hati invitasional inilah yang memungkinkan kebebasan mengembangkan hipotesis kreatif. Kelly memandang teori sebagai ekspresi temporer apa yang telah diobservasi dan apa yang  telah diperkirakan.

               Pandangan Kelly terhadap sains tidaklah unik, tetapi kejelasan dan titik penekanannya adalah penting. Selain menyoroti utilitas teori, Kelly juga memppertanyakan asumsi tradisional, diantaranya adalah soal penekanan pada pengukuran. Kemudian pandangan Kellly tentang sains lainnya adalah bahwa sains menyediakan ruang bagi metode klinis, yang merupakan lawan dari metode eksperimental murni. Dia menganggap metode klinis berguna karena berbicara dalam bahasa hipotesis, melahirkan variabel-variabel baru, dan karena metode tersebut fokus pada pertanyaan penting. Dia  percaya bahwa teori ilmiah yang baik seharusnya mendorong penemuan pendekatan baru untuk solusi masalah manusia dan masyarakat. Komponen dari pandangan Kelly tentang Sain.

  • Tidak ada realitas objektif dan tidak ada “fakta”. Teori yang berbeda memiliki konstruksi fenomena yang berbeda. Teori-teori ini juga memiliki rentang kegunaan yang berbeda dan focus manfaat yang berbeda.
  • Teori-teori seharusnya memicu riset. Akan tetapi, penekanan ekstreem pada pengukuran dapat membatasi dan menimbulkan pandangan konsep sebagai “sesuatu”. Bukan pada representasi.
  • Metode klinis itu berguna karena menghasilkan ide baru dan focus pada persolan penting.
  • Teori kepribadian yang baik harus bias membantu kita untuk memecahkan masalah manusia dan masyarakat.
  • Teori didesain untuk dimodifikasi dan ditinggalkan.
  1. Pandangan Kelly Terhadap Individu

               Pandangan Kelly tentang sains secara detail amat berhubungan dengan pandangan individu. Pandangan Kelly terhadap masalah ilmu yang ada mendasari metafora yang merupakan jantung pandangannya terhadap individu. Metefora tersebut adalah “orang sebagai ilmuwan”. Bagi Kelly, ciri utama kehidupan sehari-hari antara lain adalah upaya kita mengembangkan ide yang memungkinkan kita untuk memprediksi peristiwa penting dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Kelly, dalam membuat prediksi kita bekerja seperti seorang imuwan kita mengembangkan teori, kita menguji hipotesis, dan kita menimbang bukti.

               Pandangan orang sebagai ilmuwan memiliki dua konsekuensi lebih jauh. Pertama, pandangan tersebut menyoroti fakta bahwa orang pada dasarnya berorientasi pada masa depan. Kedua, manusia memiliki kemampuan untuk berpikir secara konstruktif tentang lingkungan untuk memikirkan ulang cara yang mereka biasa lakukan untuk menginterpretasikan dunia. Individu dapat mengembangkan teoritis alternatif, dapat mencoba konstruk yang berbeda, dan ketika melakukan hal tersebut, mereka dapat merancang strategi baru untuk mengatasi tantangan dan konflik dalam kehidupan. Bagi Kelly, orang tidak merespon lingkungan secara pasif, mereka aktif memikirkannya. Tidak seperti teori behavioris Skinner, bahwa orang hanya merespons lingkungan. Bukan hanya itu, individu secara aktif memikirkan proses berpikir mereka sendiri. Kemampuan berpikir ini yang menjadikan manusia bebas sekaligus terbatas.

  1. Teori Kepribadian George A. Kelly
  2. Struktur Kepribadian

               Dalam Yusuf,Syamsu (2007 : 109). Mengemukakan bahwa Variabel struktural kunci dalam teori kepribadian Kelly adalah “konstruk personal”. Konstruk adalah konsep yang digunkan untuk menginterpretasikan atau menterjemahkan dunia/lingkungan. Konstruk merupakan konsep yang digunakan individu dalam menafsirkan, mengategorisasikan, dan mempetakan tingkah laku. Upaya mengkonstruksikan persamaan dan perbedaan sesuatu membimbing ke arah pembentukan suatu konstruk. Suatu konstruk kehidupan ini akan kacau.

               Kelly memandang bahwa semua konstruk itu dikotomus, masing-masing mempunyai persamaan dan perbedaan. Dalam mengkonstruk peristiwa dapat digunakan konstruk dari segi kualitas dan kuantitasnya. Kelly mengukuhkan bahwa konstruk itu  tersusun dari dua kutub atau kombinasi; persamaan-perbedaan. Dengan kata lain, bahwa kita tidak dapat memahami hakikat konstruk seseorang, apabila kita hanya menggunakan kutub persamaan atau perbedaan saja. Konstruk-konstruk itu dapat dikategorikan ke dalam cara yang bervariasi, yaitu:

  1. Core (inti), konstruk dasar dari fungsi individu.
  2. Peripheral (pinggir, luar), konstruk yang dapat diubah tanpa modifikasi mendasar, serius dari konstruk inti.
  3. Permeable (dapat ditembus), konstruk yang terbuka, dapat menerima elemen-elemen yang baru.
  4. Impermeable (tak tertembus/tertutup), konstruk yang menolak elemen-elemen baru.
  5. Tight (rapat/erat), konstruk yang tidak dapat mengbauh-ubah prediksi.
  6. Loose (longgar), konstruk dimana individu mengharapkan suatu hal dalam satu waktu dan hal yang berbeda dalam kondisi yang sama.
  7. VerbaI, konstruk yang mempunyai simbol kata yang konsisten.
  8. Preverbal, konstruk dimana individu belum mempunyai simbol kata yang konsisten, konstruk ini dialami/dipelajari individu sebelum perkembangan masa bayi/masa kanak-kanak awal.
  9. Submeged (tenggelam), konstruk ini bisa jadi tidak diverbalisasikan dan individu mungkin tidak akan dapat melaporkan semua elemen yang ada pada dalam konstruk tesebut.

               Konstruk di gunakan oleh individu untuk menafsirkan dan mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang terorganisasi sebagai bagian dari sistem. Sedangkan konstruk-konstruk dalam sistem disorganisasi dalam kelompok untuk meminimalkan ketidak cocokan dan ketidak ajegan. Sistem konstruk juga diorganisir dalam kerangka herarki, yaitu konstruk subordinate ini berisi konstruk yang lebih sempit dan spesifik, termasuk konstruk bimbingan dan konseling karir lain yang berbeda dalam konteksnya.

               Teori konstruk menekankan keterkaitan antara bagian-bagian fungsi individu, yaitu adanya penafsiran tingkah laku. Menurut teori konstruk Kelly, kepribadian individu terdiri dari konstruk sistem. Seseorang menggunakan konstruk untuk menginterpretasikan dunia dan mengantisipasi peristiwa. Sehubungan dengan hal tersebut, apabila ingin mengetahui pribadi seseorang, maka perlu diketahui bagaimana dia mengkonstruk dunianya. Karena untuk mengetahui konstruk atau pemikiran seseorang, dan kelly menyarankan “ask him;he may tell you”.

               Upaya awal untuk melihat aspek struktural sistem konstruk adalah studi cognitif complexity (kompleksitas kognitif). Sistem kompleks secara kognitif mengandung banyak konstruk dan bisa didiferensiasikan. Individu yang kompleks secara kognitif memandang orang dengan cara yang beragam, sedang individu yang sederhana secara kognitif memandang orang dengan cara yang tidak bergam, bahkan sampai pada tingkatan tidak hanya menggunnakan satu konstruk dalam membaca orang lain.

Bieri (1955), menerjemahkan kompleksitas/simplisitas kognitif sebagai dimensi kepribadian, mendefinisikan sebagai pemrosesan informasi yang ada, yaitu kompleksitas kognitif bisa didefinisikan sebagai kemampuan menerjemahkan perilaku sosial sebagai multidimensional.

Tes Role Construct Repertory (Rep)

               Kelly mengembangkan teknik penilaiannya sendiri – Role Construct Repertoy Test (disingkat Tes Rep). Sebagai teknik penilaian, Tes Rep mungkin lebih berhubungan dengan teori kepribadian dibandingkan tes kepribadian komprehensif lain. Tes Rep ini digunakan untuk mempelajari sampai sejauh mana seseorang dapat digambarkan sebagai kompleks secara kognitif, mengindikasikan sampai sejauh mana seseorang dapat memandang dunia dalam kerangka yang terdiferensiasi. TesRep terdiri dari dua prosedur :

  1. Pengembangan daftar actual person (individu yang sebenarnya) yang didasarkan kepada Role Title List.
  2. Pengembangan konstruk yang didasarkan kepada perbandingan tritunggal person. Pada prosedur pertama, subjek diberikan Role Title List atau daftar peran (gambaran) yang dipercaya sebagai hal penting bagi semua orang.
  3. Proses Dinamika Kepribadian

               Dalam Yusuf, Syamsu (2008 :171) menjelaskan bahwa Dalam proses memandang tingkah laku manusia, Kelly tidak mendasarkan pada teori tradisional tentang motivasi. Kelly tidak mengkonstruk tingkah laku (behavior) dalam istilah-istilah itu menggambarkan bahwa manusia itu kaku (inert), padahal manusia pada dasarnya adalah aktif, organisme yang hidup dan berjuang.

               Dalam hal ini Kelly merumuskan suatu postulat/asumsi, bahwa “proses seseorang itu secara psikologi dijembatani oleh cara dia mengantisipasi peristiwa”. Postulat tersebut mengimplikasikan bahwa:

  • individu menyusun/mencari prediksi,
  • Individu mengantisipasi peristiwa,
  • Individu menggapai masa depan melalui jendela masa kini.

               Oleh karena itu, pada intinya individu membuat prediksi dan mempertimbangkan perubahan yang lebih jauh dalam sistem sistem konstruk karena mereka mendasarkan perubahan mengarah pada prediksi yang akurat atau tidak.

               Pembahasan proses ini akan lebih kompleks dengan diperkenalkannya konsep annxienty dan threat. Kelly mengartikan konsep-konsep itu sebagai berikut:

  1. Axienty (cemas) adalah suatu pengenalan bahwa peristiwa-peristiwa yang dikonfrontasiakan kepada individu terletak di luar daerah sistem konstruknya. Seseorang akan cemas ketika dalam kondisi tanpa konstruk, ketika seseorang kehilangan penguasaan struktural atas sebuah peristiwa dan ketika seseorang sistem konstruknya jatuh.
  2. Threat (ancaman) merupakan kesadaran akan ancaman terjadinya perubahan struktur konstruk dirinya. Individu merasa ancaman ketika mereka menyadari bahwa sistem konstruk mereka akan terrpengaruhi secara dramatis oleh apa yang baru saja ditemukan.  Kondisi ini merupakan batasan antara kebingungan dan kepastian, antara kecemasan dan kebosanan.

               Apa yang terjadi konsep kecemasan, ketakutan, dan ancaman menjadi signifikan karena konsep itu mengisyaratkan dimensi baru pada pandangan Kelly terhadap fungsi manusia. Akan tetapi, kecemasan dan ancaman, individu kemungkinan akan lebih memilih sistem yang terbatas ketimbang memperluas sistem mereka yang bisa menimbulkan resiko pada sistem konstruknya.

  1. Pandangan Kelly Mengenai Perkembangan Kepribadian

       Berdasarkan pengamatan Sechrest (1963) dalam Yusuf Syamsu (2008 : 175), bahwa Kelly tidak pernah mengemukakan secara eksplisit tentnag sistem konstruknya yang asli. Kelly menyatakan bahwa konstruk-konstruk itu berasal/bersumber dari usaha mengkonstruksi replikasi (jawaban-jawaban) atas peristiwa-peristiwa yang terjadi. Dia telah mengelaborasi berbagai peristiwa sehingga terjadinya konstruk-konstruk yang berbeda, seperti konstruk yang sederhana dan rumit (kompleks).

       Kelly berpenndapat bahwa perkembangan itu ditekankan pada konstruk preverbal pada infacy dan penafsiran budaya yang terlihat dalam proses harapan yang dipelajari. Komentar Kelly yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan terbatas pada penekanan perkembangan konstruk praverbal pada bayi dan interpretasi kultur yang terlibat proses ekspektasi yang dipelajari.

       Riset perkembangan yang diasosiasikan dengan teori konstruk personal pada umumnya menekankan dua jenis perubahan. Pertama, penelitian tentang peningkatan dalam kompleksitas sistem konstruk yang diasosiasikan dengan usia. Kedua, penelitian tentang perubahan kualitatif pada karakteristik alamiah konstruk yang dibentuk dan dalam kemampuan anak untuk menjadi lebih empatik atau sadar terhadap sistem konstruk orang lain. Dalam kerangka kompleksitas sistem konstruk, terdapat bukti bahwa ketika annak berkembang mereka meningkat jumlah konstruk mereka, membuat diferensiasi yang lebih tajam, dan menunjukkan organisasi atau intregasi yang lebih herarkis.

  1. Teori Kepribadian Kelly Aplikasi Klinis
  • Psikopatologi

       Menurut Kelly Dalam Yusuf Syyamsu (2008: 176),, psikopatologi merupakan gangguan respons terhadap kecemasan. Psikopatologi meliputi konsep-konsep aggression, hostility, guilt, yaitu:

  1. Aggression (agresi), agresi itu melibatkan elaborasi aktif bidang persepsi seseorang.  Agresi memiliki dua kutub, yaitu kutub inisiatif (penuh daya) dan kutub yang kaku (inertia).
  2. Hostility (permusuhan) melibatkan usaha yang berkesinambungan untuk memaksa bukti-bukti yang valid dari yang lain. Holistility digunakan untuk melindungi sistem konstruk tempat individu mencoba untuk membuat orang lain berbuat dengan cara yang sesuai dengan harapannya (bertindak).
  3. Gulty (rasa bersalah) diartikan sebagai kesadaran mengusir pribadi dari struktur inti. Guilty merupakan pembuangan psikologis (pengasingan psikis) dari struktur inti not morally wrong.

       Bagi Kelly, psikopatologi didefinisikan dalam kerangka fungsi sistem konstruk yang terganggu. Senada dengan hal tersebut, perilaku abnormal mengandung upaya mempertahankan sistem konstruk lama meskipun prediksi tidak benar atau ketidakvalidan terus berulang. Selainitu juga, Kelly mendefinisikan psipatologi sebagi gangguan dalam menggunakan sistem konstruk terhadap peristiwa-peristiwa. Gangguan dapat diartikan sebagai konstruk pribadi yang digunakan secara berulang-ulang karena perasaan dendam/benci yang tidak valid. Sedang gangguan psikologis adalah gangguan yang melibatkan anxienti dan usaha individu yang diulang untuk membangun kembali perasaan, sehingga mampu mengantisipasi peristiwa-peristiwa.

       Psikopatologi itu merupakan respon yang tidak sehat terhadap anxienty. Bentuk-bentuk respon itu adalah sebagai berikut:

  • Construktion (menegangkan), yaitu cenderung ditemukan pada orang yang mengalami depresi, orang yang sangat terbatas interesnya, yang sangat sempit atensinya terhadap hal-hal yang lebih kecil, juga yang sempit persepsinya untuk mengurangi ketidak kecocokan terhadap hal-hal yang berlawanan.
  • Dilation (memuai/meperlebar), yaitu yang memperlebar persepsinya. Sering ditemukan pada perilaku orang yang mengalami manic (kegemaran berlebih-lebihan).
  • Exessively Impermeable, yaitu orang yang kaku, sempit cara berpikirnya atau menutup diri, menolak rangsang dari orang lain, dan bersifat komplusif.

       Oleh karena itu, yang mendasar bagi pandangan psikopatologi Kelly adalah upaya orang untuk menghindari kecemasan (pengalaman di mana sistem konstruk seseorang tidak dapat diterapkan kepada peristiwa) dan untuk menghindari ancaman (kesadaran akan perubahan komprehensif segara dalam sistem konstruk).

       Perubahan positif yang dibahas oleh Kelly dalam kerangka perkembangan sistem konstruk yang lebih baik. Karena gangguan disebabkan pengguanaan terusmenerus sistem konstruk yang invalid, maka psikoterapi dianggap sebagai proses membantu klien meningkatkan prediksi mereka.

       Kelly mengembangkan teknik untuk mengembangkan sistem konstruk yang disebut fixe role therapy atau terapi peran tetap berasumsi bahwa secara psikologis individu adalah apa yang mereka representasikan dari diri mereka dan individu adalah apa-apa yang mereka lakukan. Fixe role therapy mendorong klien untuk mempresentasikan diri mereka dengan cara yang baru, berperilaku dengan cara yang baru, menerjemahkan diri dengan cara baru, dan dengan demikian menajdi sosok yang baru.

  1. Keunggulan dan Kelemahan Teori Kontruk Personal

       Menurut http://nonagusti.blogspot.com/2014/04/george-kellys-theory.html di unduh tanggal 4 juni 2015. Teori konstruk personal memiliki keunggulan dan kelemahan, diantaranya:

Ø  Dari segi positif:

  1. Teori tersebut memberikan konstribusi besar dengan memunculkan nilai penting sistem kognisi dan konstruk kepribadian .
  2. Merupakan pendekatan kepribadian yang berupa menangkap keunikan individu dan lawfullness orang secara umum.
  3. Teori tersebut mengembangkan teknik penilaian baru, menarik, dan elevan secara teori, yaitu tes Rep.

Ø  Dari segi negatif:

  1. Teori tersebut mengabaikan beberpa bidang penting seperti emosi dan motivasi.
  2. Terlepas dari pandangan Kelly bahwa teori hadir untuk direvormulasikan dan ditolak, tidak seorang pun yang telah menformulasikan perkembangan teoritis baru dalam teori konstruk personal sejak 1955.
  3. Teori tersebut masih berada di luar riset utama berkaitan dengan psikologi kognitif kepribadian. Banyak pendekatan yang mengakui konstribusi Kelly tetapi yang melakukan penelitian melalui jalur independen.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

       Teori personal konstruk Kelly menekankan cara orang menerjemahkan peristiwa tentang dunia/lingkungan yang berkaitan dengan sistem konstruk. Kelly juga mendasarkan teori kepribadiannya pada pandangan tentang ilmu pengetahuan dan karakteristik penyelidikan ilmiah yang emplisit. Kemudian yang mendasar bagi pandangan psikopatologi Kelly adalah upaya orang untuk menghindari kecemasan (pengalaman di mana sistem konstruk seseorang tidak dapat diterapkan kepada peristiwa) dan untuk menghindari ancaman (kesadaran akan perubahan komprehensif segara dalam sistem konstruk).

       Kelly mengembangkan Role Construc Rep Ertory Test unttuk  menilai konten dan struktur sistem konstruk seseorang. Riset terhadap teori konstruk personal pada dasarnya difokuskan kepada tes Rep. Sedang psikoterapi merupakan proses mengkonstruksi ulang dari sitem konstruk. Selain tes Rep, Kelly juga mengembangkan teknik untuk mengembangkan sistem konstruk yang disebut fixe role therapy atau terapi peran tetap berasumsi bahwa secara psikologis individu adalah apa yang mereka representasikan dari diri mereka dan individu adalah apa-apa yang mereka lakukan.

  1. Saran

      Demikian makalah yang dapat saya susun. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah yang telah saya buat ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu saya selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk mencapai kesempurnaan dalam pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan pelajaran kepada kita semua. Amin..

Daftar Pustaka :

Yusuf, Syamsu dan Nurihsan A.Juntika , (2007), Teori Kepribadian,Bandung : PT            Remaja Rosdakkarya Offset.

Yusuf, Syamsu dan Nurihsan A.Juntika , (2008), Teori Kepribadian,Bandung : PT            Remaja Rosdakkarya Offset.

http://nonagusti.blogspot.com/2014/04/george-kellys-theory.html

            (di poskan oleh Gina Gusti tanggal 8 Apr 2014 dan di unduh tanggal 4 juni            2015    pukul 14.00).

http://dewiroudloh.blogspot.com/2014/01/george-kelly.html

            (di poskan oleh dewi tanggal 16 Januari 2014 dan di unduh tanggal 4 juni 2015 pukul 14.30)

http://fahreziadi.blogspot.com/2014/05/teori-kepribadian-geoge-kelly.html

            (di poskan oleh fahreziadi tanggal 15 Mei 2014 dan di unduh tanggal 4      juni      2015 pukul 14.30)

http://sintaluckyedi.blogspot.com/

            (Diposkan oleh Sinta luckyedi dan di unduh tanggal 4 juni 2015 pukul       15.00

 

 

 

 

 

 

 

 

Tugas Konseling Keluarga

Standar

TUGAS KONSELING KELUARGA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konseling keluarga

Dosen Pengampu :

Dr. Hj. Sitti Hartinah DS.MM

Di susun oleh :

Nur khomisah (1113500083)

Kelas :BK / 4A

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL

TAHUN 2015

Kasus Knseling keluarga

  • Analisis Masalah

       Devi adalah Siswa Kelas 3 di SMA, dia anak Kedua dari 2 bersaudara. Devi mempunyai kakak yang saat ini masih menjalani kuliah di luar kota. Di lihat dari keadaan ekonomi keluarganya devi tergolong dalam taraf menengah ke atas.

       Permasalahan yang di alami Devi ini berawal dari fenomena keluarga yang kedua orang tuanya sering bertengkar tidak jelas hingga berujung pada perceraian. Devi sering mendengar pertengkaran itu terjadi ketika di rumah. Hal itu menjadikan devi merasa takut, tertekan dan frustasi. Belum lagi dari kedua orang tuanya sekarang sudah jarang sekali memperhatikan devi karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Hal tersebut memuat hubungan antara anak dan orang tua menjadi renggang akibat komunikasi antara keduanya itu berkurang.

       Setelah kurun waktu devi merasakan kebosanan ketika di rumah akhirnya devi mencari suasana lain yaitu bergabung bermain dengan teman-teman baru di luar rumah yang bukan merupakan anak sekolahan.tujuannya agar bisa menenangkan dirinya devi dari masalah tersebut. Tetapi semenjak devi bermain dengan teman-teman barunya itu devi menjadi berubah karena kebiasaan yang dilakukan teman-teman barunya itu berbau dengan hal-hal yang negatif seperti melakukan srks bebas dan narkoba sehingga devi hampir terjerumus kedalam hal-hal itu.

       Semenjak kenal dengan hal itu devi menjadi malas untuk berangkat sekolah (membolos) atau sering tidak masuk sekolah hingga terulang sampai 7 kali. Pada hari yang ke 8 devi mulai masuk sekolah karena sudah merasa ada yang tidak beres dengan teman-temannya tersebut. Wali kelas pun mengetahui absensi devi yang 7 hari tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Lalu wali kelas itu melaporkan kepada guru BK.sehingga guru BK segera memanggil devi untuk melakukan konseling individu.

       Setelah berjalannya waktu melewati proses konseling, guru BK mengambil kesimpulan bahwa penyebab devi melakukan hal tersebut ternyata devi punya masalah dalam keluarga yang menjadi sumber devi menjadi tidak masuk sekolah. Kemudian guru BK memberikan surat kepada devi untuk di berikan kepada orang tua yang isinya tentang (orang tua di suruh hadir ke sekolah untuk di mintai keterangan lebih lanjut).

  • Metode pemberian bantuan

       Adapun metode yang di gunakan dalam kasus ini menggunakan pendekatan konseling Trait and Factor karena dalam hal ini orang tua menjadi sumber penyebab timbulnya masalah pada klien. dan juga mengajak klien untuk berfikir mengenai dirinya sendiri serta mampu mengembangkan cara-cara yang dilakukan agar dapat keluar dari masalah yang dihadapinya.Selain itu dapat membantu klien merasa lebih baik dengan menerima pandangan mengenai dirinya sendiri dan membantu klien berpikir lebih jernih dalam memecahkan masalah dan mengontrol perkembangannya secara rasional.

       Adapun bentuk pemberian layanan konseling pada kasus ini yaitu dapat dilakukan dengan Diagnosis dan konseling keluarga yang di kembangkan oleh Ackerman (Nathan W. Ackerman), yang merupakan seorang psikiatris di New York, yang secara profesional telah mengembangkan dan menyebarluaskan konseling keluarga dengan menekankan interpendensi antara prosedur diagnosis dan penanganan (treatment).

       Menurut Ackerman bila kita kurang jelas/tidak memiliki konsep keluarga sehat/baik, kita dengan mudah dapat tertipu mengenai apa yang seharusnya dan sesungguhnya menjadi faktor penyebab sakitnya keluarga yang bersangkutan seperti dalam kasus yang di alami devi ini karena dia merasa kurang di perhatikan oleh orang tuanya, orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya sendiri terlebih dari itu sering bertengkat yang tidak jelas hingga berujung pada perceraian. Hal itu membuat devi merasa takut, tertekan dan frustasi.

       Dalam kasus ini dan diagnosis oleh ackerman seorang konselor harus bekerja sesuai jalur prinsip yang lebih spesifik yang diantaranya :

  • Membebaskan beban yang telalu banyak di alami oleh klien (devi) yang sebagai anggota dalam suatu keluarga yaitu devi yang merasa takut, tertekanm dan frustasi karena kurang perhatian dari orang tuanya, karena orang tuannya sering bertengkat hingga berujung pada percerainan sehingga konselor membebaskan beban klien dengan cara memanggil anggota keluarga (ibu, bapak dan kakaknya) untuk di mintai keterangan agar masalah yang di alami devi itu dapat terselesaikan.
  • Membebaskan beban kesediaan karena konflik dalam keluarga, dimana seharusnya dapat saling berhubungan dengan lebih efektif yaitu disini devi (klien) agar hubungan dengan keluarganya menjadi baik kembali.
  • Mengaktifkan masuknya unsur emosi yang baik ke dalam hubungan antar seleanggota keluarga. Yaitu antar sesama anggota keluarga bisa saling menyayangi dan tidak terjadi pertengkaran kembali.